Sunday, April 30, 2006

SOAL: Apakah Anda termasuk kelompok THAIFAH MANSHURAH ???

SIFAT-SIFAT THAIFAH MANSHURAH

THAIFAH MANSHURAH bukan monopoli perseorangan di luar yang lain atau milik satu kelompok di luar yang lain, yang tunduk mengikuti hawa nafsu, keinginan-keinginan dan pemisahan-pemisahan para pemilik jama’ah-jama’ah atau partai-partai … akan tetapi ia adalah Thaifah Rabbaniyah yang dikenal melalui ciri dan sifat serta karakteristik yang ditunjukkan oleh nash-nash Al-Kitab dan As-Sunnah. Siapa yang melekat padanya ciri dan sifat tersebut, maka dia termasuk di antara Thaifah Najiyah Manshurah, baik orang menerimanya ataupun menolaknya. Dan siapa yang tidak melekat padanya ciri dan sifat tersebut, maka dia tidak tergolong di antara Thaifah Manshurah, meskipun dia mengaku-aku - dengan lesannya seribu kali-bahwa dia termasuk darinya, dan termasuk di antara ahlinya … !

Jadi tolok ukur untuk menentukan siapa yang tergolong Thaifah Manshurah dan siapa yang tidak, adalah dengan melihat sebesar mana ciri dan sifat karakter Thaifah Manshurah tadi melekat padanya … bukan cuma sekedar pengakuan bergabung atau menisbatkan diri … dan mengaku sesuatu yang tidak ia miliki dan tidak ada padanya … !!

Allah Ta’ala berfirman: "Wahai orang-orang beriman, mengapa kalian mengatakan apa yang tidak kalian lakukan. Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kalian mengatakan sesuatu yang tidak kalian lakukan." (QS. Ash-Shaff: 2-3).

Boleh jadi seseorang memiliki sebagian sifat-sifat dari Thaifah Manshurah … dan diketahui bahwa dia punya sifat-sifat tersebut lebih banyak dari yang lain … maka saat itu dikatakan tentangnya: Pada dirinya terdapat ciri-ciri dan sifat Thaifah Manshurah … sesuai dengan kadar kepemilikannya atas ciri-ciri dan sifat tersebut.

Jadi unsur-unsur Thaifah Manshurah berbeda-beda kadarnya di antara mereka, sesuai dengan kedekatan atau jauhnya mereka dari kesempurnaan ciri-ciri dan sifat Thaifah Manshurah yang melekat pada diri mereka masing-masing … dan atas dasar kadar perbedaan ciri dan sifat ini, maka berbeda-beda pula tingkatan mereka menurut kuat atau lemahnya iman.

Berikut ini kami sampaikan kepada Anda ciri-ciri dan sifat Thaifah Manshurah yang paling utama dan paling menonjol … sebagaimana yang diterangkan dalam Al-Kitab dan As-Sunnah. Kami simpulkan dalam poin-poin sebagai berikut:

Sifat Pertama:

ITTIBA’ (MENGIKUTI SUNNAH) BUKAN IBTIDA’ (MEMBUAT BID’AH) MENCARI PETUNJUK MELALUI PEMAHAMAN SALAFUSH SHALEH TERHADAP NASH-NASH AL-KITAB DAN AS-SUNNAH.

DI ANTARA sifat-sifat Thaifah Manshurah yang paling khusus adalah mereka berjalan mengikuti Minhaj Nubuwwah (metode kenabian); shirathal mustaqim … Hawa nafsu dan beraneka macam jalan yang diadakan oleh kaum musyrikin dan ahli bid’ah tidak dapat memalingkan pandangan mereka. Dalam seluruh urusan mereka, baik kehidupan dunia dan akherat, mereka selalu meneladani peri kehidupan Nabi saw. dan para sahabatnya -semoga Allah meridhai mereka semua--. Peri keadaan mereka, selamanya adalah mengikuti dan meneladani kebaikan dari para pendahulu mereka, bukan ibtidaa’ (membuat bid’ah) dan membuat hal-hal yang baru di dalam agama.

Sifat Kedua:

JIHAD FIE SABILILLAH

JIHAD FIE SABILILLAH merupakan sifat kedua dari golongan Thaifah Manshurah. Sifat ini hampir-hampir dikenal melalui mereka, dan mereka dikenal melalui sifat ini. Keduanya tak terpisahkan seperti tak terpisahkannya bayangan dengan benda aslinya, tak terpisahkan dari mereka dalam keadaan apapun. Apabila antara mereka dengan jihad fie sabilillah terpisah oleh penghalang -karena keadaan di luar kebiasaan--, maka kita lihat cita-cita dan obsesi mereka adalah bekerja guna menyingkirkan penghalang dan perintang tersebut, agar mereka bisa memulai kembali berperang dan berjihad fie sabilillah.

Kita lihat mereka, selalu mencari-cari celah-celah dan front-front jihad … kemudian jika celah tersebut ditutup … maka mereka kembali membuka celah lain untuk menghidupkan faridhah (kewajiban) jihad fie sabilillah.
Mereka adalah orang-orang yang berjihad di jalan Allah dan tidak takut celaan orang-orang yang suka mencela.

Sifat Ketiga:

BERWALA’ DAN MEMUSUHI KARENA ALLAH

DI ANTARA sifat karakter Thaifah Manshurah adalah mereka berwala’ (Menjadikan sahabat setia, mendukung dan menolongnya) dan mencintai karena Allah … memusuhi dan membenci karena Allah … mereka lemah lembut terhadap orang-orang beriman, belas kasih antara sesama mereka dan keras terhadap orang-orang kafir … tak mengenal wala’ kecuali wala’ akidah yang ditegakkan karena Allah Ta’ala: "Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersamanya adalah keras terhadap orang-orang kafir, berkasih sayang sesama mereka." (QS. Al-Fath: 29).

"Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa yang murtad di antara kalian dari agamanya, maka kelak Allah mendatangkan kaum yang Dia mencintai mereka dan merekapun mencinta-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang-orang mukmin, bersikap keras terhadap orang-orang kafir, berjihad di jalan Allah dan tidak takut celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, Dia berikan kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui." (QS. Al-Maidah: 54).

Sifat Keempat:

SYUMUL/KOMPREHENSIP

YANG KAMI MAKSUD dengan sifat ini ialah bahwa Thaifah Manshurah di antara sifatnya adalah mengambil Islam secara keseluruhan tanpa mengabaikan salah satu aspek di antara aspek-aspeknya, atau menaruh perhatian pada sebagian aspek dan mengabaikan aspek yang lain, dengan tetap memperhatikan skala prioritas dan keseimbangan, apa yang perlu didahulukan atau diakhirkan menurut tuntutan maslahat-maslahat syar’i, mendahulukan yang paling penting atas yang penting ketika terjadi benturan kepentingan pada saat yang bersamaan, tanpa meremehkan perkara yang penting itu atau melalaikannya.

Mereka bukanlah jama’ah yang manhaj-manhajnya serta aktifitas-aktifitasnya hanya tegak dan terfokus pada aspek dakwah dan tabligh, atau mau’izhah dan irsyadat saja … !

Mereka bukanlah jama’ah yang manhaj-manhajnya dan perhatian-perhatiannya hanya terfokus pada jihad saja … !

Sifat Kelima:

WASATHIYAH DAN I’TIDAL

DI ANTARA sifat utama Thaifah Manshurah yang membedakan mereka dengan thaifah-thaifah dan firqah-firqah yang lain adalah "Wasathiyah dan I’tidal" (tengah-tengah, adil, pilihan, terbaik). Mereka berada di posisi tengah-tengah dalam semua aspek kehidupan agama dan dunia mereka, di mana mereka tidak bersikap ghuluw (melewati batas) ataupun Jafaa’ (menjauh), tidak Ifrath (berlebih-lebihan) maupun Tafriith (melalaikan), tidak Israaf (terlalu boros) ataupun Taqtiir (terlalu hemat).

"Demikianlah Kami jadikan kalian sebagai ummat "Wasathan" (yang adil dan terbaik) agar kalian jadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul jadi saksi atas (perbuatan) kalian." (QS. Al-Baqarah: 143).

Sifat Keenam:

ILMU

DI ANTARA sifat utama dari Thaifah Manshurah juga adalah "Ilmu", bahwasanya mereka adalah ulama (orang-orang yang berilmu) dalam urusan agama dan dunia mereka, sebab di antara tuntutan-tuntutan dari sifat mereka yang telah disebutkan di atas menghendaki mereka adalah ulama … ini bukan berarti bahwa semua individu dari Thaifah Manshurah adalah orang-orang alim yang menonjol dalam pencarian ilmu dan pencapaiannya. Mereka berada pada satu level tingkatan dalam soal ilmu dan pencapaiannya, hanya saja sebutan mereka sebagai Thaifah Manshurah tidak boleh kosong dari ulama rabbaniyun dan amilun.

Yang mengukuhkan hal ini ialah bahwa Thaifah Manshurah, termasuk di antara sifat-sifat mereka --seperti telah diutarakan di atas-memerintah yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, berperang di jalan Allah, dan agama ini tegak dan menang melalui perantaraan mereka, dan bahwasanya mereka adalah orang-orang yang adil dan moderat … ahli ittibaa’ dan iqtidaa’ … tugas ini tak mungkin dikerjakan kecuali oleh orang-orang yang berilmu dan beramal, atau orang yang terpenuhi pada diri mereka sejumlah ilmu syar’i yang cukup lumayan … jika tidak, maka orang yang tak tahu sesuatu adalah seperti orang tak mempunyainya, tak mungkin dia dapat memberikannya.

Allah Ta’ala berfirman: "Dan hendaklah ada di antara kalian segolongan ummat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung." (QS. Ali Imran: 104).

Sifat Ketujuh:

SABAR DAN TEGUH

BAGI TUGAS BESAR yang terpikul di atas pundak Thaifah Manshurah, maka bisa dikata mereka adalah thaifah yang terus menghadapi ujian … mereka dengan ujian adalah dua sekawan yang tak pernah saling berpisah … jika disebut Thaifah Manshurah, maka disebut pula ujian … disebut pula rasa sakit dan luka … !

Di antara tuntutan ujian dan cobaan … adalah sabar dan teguh hati di dalam memperjuangkan kebenaran, meskipun panah-panah kebatilan amat banyak dan gencar menyerang mereka … !

Ujian yang tidak dihadapi dengan kesabaran dan keteguhan hati … ataupun keikhlasan … justru diiringi dengan kedongkolan dan sikap berpaling … maka ia akan menjadi siksa balasan bagi orangnya di dunia dan di akherat … dan ia adalah sikap yang tak terpuji dalam menghadapi ujian … dan ia adalah tanda yang menunjukkan celaka dan lemahnya iman orang yang mendapat ujian … sedangkan Thaifah Manshurah adalah makhluk ciptaan yang paling jauh dari sifat-sifat yang tercela ini … !

Thaifah Manshurah tanpa ujian … tanpa luka dan rasa sakit … tanpa penderitaan ataupun tetesan darah … tanpa kesabaran dan keteguhan hati … maka mereka sekali-kali tak akan menjadi Thaifah Manshurah yang beroleh keridhaan Allah, yang Nabi saw. telah menyebutkan sifat-sifat mereka dalam banyak hadits … !

Sungguh alangkah sangat menggelikanku, orang yang terpedaya oleh lamunannya, yang sering mengaku-aku menyebut dirinya sebagai "Salafy Atsari" (pengikut manhaj salafush shaleh dan hadits), yang mendekat kepada istana-istana penguasa Thaghut yang zhalim … yang tak pernah sama sekali diketahui bahwa di suatu masa dia pernah diuji karena membela agama Allah … yang suka menggelari para mujahidin dengan sebutan aktivis teroris (neo Khawarij) … ketika mereka mengatakan tanpa rasa malu sama sekali --menyucikan dirinya dan orang yang segolongan dengannya--: "Kami adalah Thaifah Manshurah … jika bukan kami … lantas siapa mereka …?!

Omongan kosong! … lamunan tak bermakna! … Tipu daya Iblis! … Kalaulah mereka mengetahuinya !!

Thaifah Manshurah … mereka adalah para pelopor di setiap medan dan kancah kebaikan serta kontribusi mereka dikenal dengan jihad dan perang (mereka) … menyampaikan kebenaran secara terang-terangan … tampil di tengah-tengah manusia yang memusuhi mereka dan menyelisihi mereka … tidak takut karena Allah, celaan orang yang mencela … sifat-sifat ini tak mungkin timbul kecuali bersama dengan ujian … kesabaran dan keteguhan hati dalam memperjuangkan kebenaran, sebesar apapun pengorbanannya.

Wallahu A’lam.

Sumber: Thaifah Manshurah Apa dan Siapa, oleh Syaikh Abdul Mun’im Musthofa Halimah.

SATRIA SEJATI
"Putera Islam"

ILMU: KEBERADAAN THAIFAH MANSHURAH

KEBERADAAN THAIFAH MANSHURAH

SEBELUM KITA membicarakan lebih jauh tentang sifat-sifat Thaifah Manshurah, serta pentingnya memperbanyak jumlahnya dibandingkan thaifah yang lain. Maka risalah kali ini kami akan mengukuhkan lebih dahulu keberadaan thaifah ini dan kesyar’iyan wujudnya.

Maka kami katakan: Telah mutawatir dalil-dalil shahih yang menunjukkan keberadaan Thaifah Manshurah serta kelangsungan serta kelangsungannya hingga hari kiamat, bahwasanya ia adalah kelompok yang mendapat pertolongan yang senantiasa tampil membela kebenaran, tidak membahayakan (menggoyahkan tekad) mereka orang yang menelantarkan mereka atau menyelisihi mereka hingga kiamat tiba … di antaranya adalah hadits yang datang dalam Shahih Muslim:

Dari Tsauban, dia berkata: "Rasulullah saw. bersabda: "Akan senantiasa ada di antara ummatku sekelompok orang yang tampil membela kebenaran, tidak membahayakan mereka orang yang menelantarkan (tidak menolong) mereka sehingga datang ketetapan Allah, sedang mereka tetap dalam keadaan demikian."

Dan dari sahabat Mughirah bin Syu’bah, dia berkata: "Aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda: "Akan senantiasa ada di antara ummatku, sekelompok kaum yang tampil ditengah-tengah manusia, sehingga datang pada mereka ketetapan Allah sedang mereka dalam keadaan unggul."

Dan dari Jabir bin Samurah, dari Nabi saw, bahwasanya beliau bersabda: "Agama ini senantiasa akan tegak, berperang membelanya sekelompok kaum muslimin hingga hari kiamat tiba."

Dan dari Jabir bin Abdullah, dia berkata: "Aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda: "Akan senantiasa ada di antara ummatku sekelompok orang yang berperang membela kebenaran, mereka terus wujud hingga hari kiamat."

Dan dari ‘Imran bin Hani’, dia berkata: "Aku mendengar Mu’awiyah berkhotbah di atas mimbar: "Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda: "Akan senantiasa ada di antara ummatku, sekelompok orang yang menegakkan perintah/agama Allah, tidak membahayakan mereka orang yang menelantarkan mereka atau orang yang menyelisihi mereka, sehingga datang ketetapan Allah, sedang keadaan mereka unggul atas manusia.

Dari ‘Imran bin Hushain, dia berkata: "Rasulullah saw. bersabda: "Akan senantiasa ada di antara ummatku sekelompok orang yang berperang membela kebenaran, menang atas orang yang memusuhi mereka, sehingga orang terakhir di antara mereka memerangi Al-masih Dajjal." (Shahih, Sunan Abu Dawud).

Dan dari Salamah bin Nufail Al-Kindi, dia berkata: "Ketika aku sedang duduk di dekat Rasulullah saw, tiba-tiba ada seorang lelaki bertanya: "Wahai Rasulullah, orang-orang sudah tidak lagi mengurus kuda mereka dan meletakkan senjata mereka dan mereka mengatakan: "Tak ada lagi jihad, perang telah usai!" Rasulullah saw. menghadapkan wajahnya dan berkata: "Mereka dusta!!. Sekarang telah datang masa perang dan akan senantiasa ada di antara ummatku sekelompok orang yang berperang membela kebenaran dan Allah memalingkan hati banyak kaum pada mereka dan memberi rezeki mereka dari (harta musuh) mereka hingga kiamat tiba, sehingga janji Allah datang. Kuda itu tertambat pada ubun-ubunnya kebaikan hingga hari kiamat." (Shahih, Sunan An-Nasa’i. 3333).

Dan dari Mu’awiyah bin Qurrah dari ayahnya: "Rasulullah saw. bersabda: "Akan senantiasa ada di antara ummatku sekelompok orang yang diberi pertolongan, tidak membahayakan mereka orang yang menelantarkan mereka hingga kiamat tiba." (Shahih Ibnu Majah 6).

Dan dari Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah saw. bersabda: "Akan senantiasa ada di antara ummatku sekelompok orang-orang yang konsisten membela agama Allah, tidak membahayakan mereka orang yang menyelisihinya!." (Shahih Sunan Ibnu Majah 7).

Dan dari Amru bin Syu’aib, dari ayahnya, dia berkata: "Pernah suatu ketika Mu’awiyah berdiri di atas mimbar menyampaikan khotbah, lalu dia berkata: "Di mana gerangan ulama-ulama kalian? Di mana gerangan ulama-ulama kalian? Aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda: "Tidak akan terjadi hari kiamat melainkan ada sekelompok di antara ummatku yang memerangi manusia. Mereka tidak mempedulikan orang yang menelantarkan mereka ataupun orang yang menolong mereka." (Shahih Ibnu Majah 9).

Dan dari Abu Inabah Al-Khaulani, dan dia adalah sahabat yang pernah shalat menghadap dua kiblat bersama Rasulullah, dia berkata: "Aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda: "Allah senantiasa akan menumbuhkan satu tanaman (generasi) dalam agama ini yang Dia pekerjakan mereka untuk menta’ati-Nya." (Shahih Ibnu Majah 8).

Serta banyak lagi hadits-hadits dan nash-nash lain yang menunjukkan eksistensi Thaifah Manshurah ini, bahwasanya mereka senantiasa tampil membela kebenaran … dan bahwasanya mereka diberi pertolongan, tidak menggoyahkan tekad mereka orang yang memusuhi mereka ataupun orang yang menelantarkan mereka … hingga hari kiamat tiba.

Keberadaan Thaifah Manshurah ini, tidak diragukan lagi, mempunyai dampak yang positif dalam jiwa orang-orang mukmin yang tertindas di muka bumi; membangkitkan harapan dan keyakinan di dalam jiwa mereka akan pertolongan Allah Ta’ala dan janji-Nya, dan bahwa akhir kesudahannya -walaupun di kemudian hari kelak-meskipun kebatilan bersimaharajalela, menjadi besar tentara dan kekuasaanya.

Di dalamnya juga terdapat khabar buruk bagi semua Thaghut-thgahut (Segala sesembahan selain Allah Ta’ala) di muka bumi yang memancangkan bendera permusuhan dan peperangan terhadap Islam dan kaum muslimin … bahwa tipu daya mereka dan perang mereka tidak berguna sama sekali bagi mereka … bahwa tipu daya mereka akan berbalik mengenai mereka sendiri … dan bahwasanya mereka, meski telah berusaha semaksimal mungkin, maka kemenangan tetap untuk kalimat Allah saja … walaupun setelah beberapa masa nanti.

Ribuan penguasa tiran dan lalim -disepanjang perjalanan masa-telah memancangkan peperangan dan permusuhan terhadap Islam dan kaum muslimin … mereka menggerakkan ratusan ribu tentara untuk memeranginya … namun sekarang di mana gerangan mereka? … Di mana gerangan harta mereka yang melimpah ruah?, yang mereka kerahkan untuk memalingkan manusia dari jalan Allah … Dan di mana agama Allah? … jika mereka bisa melihat!!

Mereka semua telah pergi dan binasa menjadi kayu bakar Neraka Jahannam, dan Jahannam adalah seburuk-buruk tempat kembali … sedangkan agama Allah Ta’ala terus tumbuh berkembang, tinggi, luas dan tersebar ke seluruh penjuru negeri dan ke segenap anak bangsa … meskipun orang-orang kafir tidak menyukainya!!

Bukankah itu menunjukkan bahwa ada tangan maha kuat yang telah menjamin kelangsungan, penjagaan dan pertolongan bagi agama ini … ?!
Ya benar, jika mereka mengetahui!

Allah Ta’ala berfirman: "Mereka hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang kafir tidak menyukai." (QS. At-Taubah: 32).

Allah Ta’ala berfirman: "Sesungguhnya orang-orang kafir, menafkahkan (menggunakan) harta mereka untuk menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Mereka akan menafkahkan harta itu, kemudian akan menjadi penyesalan bagi mereka, kemudian mereka akan dikalahkan. Dan ke dalam neraka Jahannamlah orang-orang kafir itu di kumpulkan." (QS. Al-Anfal: 36).

Wallahu A’lam.

Sumber: Thaifah Manshurah Apa dan Siapa, oleh Syaikh Abdul Mun’im Musthofa Halimah.

SATRIA SEJATI
"Putera Islam"

ILMU: Thaifah Manshurah APA dan SIAPA?

Thaifah Manshurah
APA dan SIAPA?

“Akan senantiasa ada di antara ummatku sekelompok orang yang berperang membela kebenaran, mereka terus wujud hingga hari kiamat.” (HR. Muslim).

Mereka ada di antara kita!
Mereka berjuang membela kepentingan kita!
Kehadirannya bak tetesan embun di padang gersang.
Keberadaannya bagai cahaya di kegelapan
Eksistensi kaum muslimin tak berarti tanpa mereka
Islam tinggal nama tanpa kehadiran mereka
Kenalkah Anda kepada mereka …???
Thaifah Manshurah …!!!
Apa itu …???
Sebuah nama yang asing di telinga sebagian besar kaum muslimin!
Sebutan yang jarang diperbincangkan di kancah pergaulan!
Siapakah mereka …???
Dimana keberadaannya …???
Darimana kita bisa mengenali mereka …???
Apa peran mereka atas kaum muslimin …???
Apa kontribusi mereka dalam menjaga nyala api Islam …???
Apakah Anda termasuk kelompok mereka …???
Apakah jama’ah Anda mempunyai karakter seperti mereka …???
Atau justru sebaliknya …???

Banyak sekali -–bermunculan di kancah pergerakan Islam-- kelompok-kelompok, organisasi-organisasi dan partai-partai; masing-masing mengklaim –-untuk dirinya dan tidak untuk yang lain-- bahwa mereka berada di atas kebenaran, tak ada keraguan di dalamnya, dan bahwa kemenangan serta pembebasan akan tercapai melalui tangan mereka, bukan lewat tangan seorangpun di luar mereka … Mereka pada hakikatnya, bukan bagian dari kebenaran sedikitpun, dan mereka tidak pula berjalan di atas minhaj nubuwwah dan minhaj Salafush Shaleh … !!!

Realitas tersebut menimbulkan dampak-dampak negatif terhadap kehidupan ummat manusia, persepsi dan sikap mereka; sehingga neraca timbanganpun menjadi kacau dalam pandangan mereka, maka tercerai-berailah wala’ (kesetiaan atau loyalitas) serta intimaa’ (pengikutan atau penggabungan diri) mereka kepada partai-partai –-yang berbeda dan saling bermusuhan-- yang Allah tidak menurunkan hujjah atasnya.

Perbedaan wala’ dan intimaa’ mereka itu semakin memperdalam jurang perbedaan, pertikaian dan perpecahan di antara mereka yang seharusnya bersaudara dan saling cinta mencintai karena Allah. Perpecahan ini menyulut kedengkian, kemarahan dan kebencian di dalam hati mereka, sehingga hampir-hampir tidak Anda temukan dua orang, kecuali dalam diri salah seorang di antaranya tersimpan rasa tidak senang terhadap yang lain … yang disebabkan oleh hawa nafsu, partai-partai, kelompok-kelompok tersebut … serta loyalitas-loyalitas batil lagi saling bertentangan yang dipaksakan kepada para pengikut!!!

Demikian pula, banyaknya partai dan jama’ah yang berbeda sumber rujukannya, telah menimbulkan keraguan dan kebimbangan dalam diri banyak orang terhadap semua jama’ah-jama’ah masa kini –-baik yang benar maupun yang batil--, dan akibat keraguan dan kebimbangan itu membuat mereka lebih suka hidup menyepi dan mengucilkan diri atau bersikap netral -–tanpa mau membedakan antara jama’ah yang pantas menerima wala’ (kesetiaan atau loyalitas) dan penghargaan dengan jama’ah yang pantas menerima barra’ (permusuhan)—karena mereka meragukan kesungguhan dan keikhlasan semua jama’ah-jama’ah yang muncul di kancah perjuangan Islam … semuanya, menurut mereka, adalah tertuduh … !!!

Insya Allah, risalah yang akan datang di dalamnya terdapat panduan untuk mengetahui sifat-sifat Thaifah Najiyah Manshurah –sebagaimana dikabarkan dalam Al-Kitab dan As-Sunnah—Thaifah yang wajib bagi setiap orang Islam berada di dalamnya, memperbanyak jumlahnya dan tulus setia membelanya. Dan risalah itu –insya Allah—laksana obor penyuluh yang menerangi kegelapan jalan, dan tolok ukur yang dengannya dapat diketahui posisi partai-partai tersebut dari kebenaran, dan dapat diketahui sejauh mana kedekatan mereka terhadapnya … serta dapat diketahui yang bermanfaat darinya dan yang membahayakan lagi tidak bermanfaat.

Risalah itu akan mengantar Anda berkenalan dengan mereka, mengetahui sifat-sifat dan keberadaan mereka serta mengajak Anda untuk menjadi seperti mereka.

Risalah itu akan membantu Anda untuk mengetahui kebenaran dan ahlinya, dan bersegera menolong mereka, memperbanyak jumlah mereka serta bergabung dalam barisan mereka. Juga membantu Anda untuk mengetahui kebatilan dan ahlinya, dan bersegera meninggalkan, memusuhi serta menjauhi mereka sekuat tenaga.

Risalah itu memperingatkan setiap muslim yang menjadi pembela kebatilan dan pengikutnya … untuk tidak memperbanyak jumlahnya walau hanya dengan bayangan (tidak langsung) atau perbuatan atau perkataannya … dalam memerangi kaum muslimin … sehingga dia menjadi sekutu mereka dalam dosa dan permusuhan, baik dia tahu ataupun tidak …!!!

Sebagaimana keterangan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Ibnu Mas’ud secara marfu’: “Siapa yang memperbanyak jumlah suatu kaum, maka dia termasuk di antara mereka, dan siapa yang ridha dengan perbuatan suatu kaum, maka dia menjadi sekutu orang yang mengerjakannya.” (Ditakhrij oleh Abu Ya’la, Fathul Baari XIII/37).

Rasulullah saw. bersabda: “Tiadalah seseorang mencintai suatu kaum, kecuali Allah jadikan dia bersama mereka.” (HR. Ahmad, An-Nasa’i, dan Al-Hakim).

Di dunia dan di akherat.

Rasulullah saw. bersabda: “Orang yang menjadi sekutu kaum adalah bagian daripada mereka.” (HR. Ath-Thabrani).

Yang membenarkan sabda Nabi saw. di atas adalah firman Allah Ta’ala dalam Kitab-Nya: “Dan barangsiapa di antara kalian menjadikan mereka sebagai wali, maka sesungguhnya dia termasuk di antara mereka.” (QS. Al-Maidah: 51).

Yakni, sama seperti mereka dalam kekafiran dan menjadi kawan sekutu mereka di dalam dosa.

Supaya risalah itu menjadi hujjah dalam tema-tema bahasannya, maka kami berupaya dengan sungguh-sungguh menetapkan ciri dan sifat Thaifah Najiyah Manshurah sebagaimana disebutkan dalam Al-Kitab dan As-Sunnah dan ditunjukkan oleh nash-nash syar’i, mengikuti atsar-atsar dan pemahaman kaum Salafush Shaleh … seraya memohon kepada Allah Ta’ala agar kiranya Dia berkenan memberikan taufik dan menerima amalan ini … dan berkenan memberikan ilham kebenaran dan yang benar pada diriku dan menjauhkanku dari hawa nafsu dan kesalahan … dan berkenan pula menjadikan kita dengan karunia, kemurahan dan rahmat-Nya, termasuk di antara golongan Thaifah Najiyah Manshurah di dunia dan akherat, sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Dekat.

Semoga keselamatan dan kesejahteraan senantiasa dilimpahkan kepada Muhammad Nabi yang ummi dan juga kepada keluarganya dan para sahabatnya.

Wallahu A’lam.

Sumber: Thaifah Manshurah Apa dan Siapa, oleh Syaikh Abdul Mun’im Musthofa Halimah.

SATRIA SEJATI
“Putera Islam”

Friday, April 28, 2006

RENUNGAN: MATI Giliran Yang Pasti Akan Datang Menghampiri

MATI
Giliran Yang Pasti
Akan Datang Menghampiri

“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup disisi Rabbnya dengan mendapat rezeki. Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. Ali Imran: 169-170).

Belakangan ini… terlalu banyak berita tentang kematian manusia akibat bencana yang melanda. Kala bencana datang melanda, semua orang tersentak ingin bertanya. Mengapa terjadi? Mengapa terjadi? Banyak yang merasa sedih atas kejadian tersebut. Aku tersentuh dan mencoba merenungkan sesuatu di balik kejadian tersebut.

Hari bencana alam itu adalah hari kematian mereka! Kapankah akan datang hari kematian ku? Kapankan akan datang hari kematian saudara dan teman-teman ku? Apakah perkara atau soal kematian tidak perlu dipikirkan?

Kenapa selama ini… banyak yang ku kenali… tidak begitu berminat atau mencoba menghindarkan diri apabila soal ‘mati dibicarakan? Kenapa begitu banyak sekali orang yang mencoba menghindarkan diri… apabila perkara ‘mati’ dikatakan? Padahal… kematian itu adalah sesuatu yang pasti!… yang akan tiba kepada siapa pun yang masih hidup!

Aku mencoba memikirkan hal tersebut… Aku pikirkan diri ku sendiri… Apakah aku takut mati? Apakah aku sudah siap untuk menghadapi kematian? Apakah aku sudah siap untuk bertemu dengan Rabbku? Apakah persediaan yang telah aku lakukan didalam hidup ku selama ini? Apakah rahasia hidup dan rahasia menghadapi kematian? Jiwa yang bagaimanakah yang telah puas hidup cukup siap menghadapi kematian?

Aku renungkan lagi… Banyak yang beragama Islam dan percaya kepada Allah… tetapi… Apakah mereka hidup selama ini… sebenar-benarnya hidup untuk membela agama mereka? Banyak yang mencoba menjadi orang baik, melakukan ibadah dan beramal shaleh…… tetapi… Apakah selama ini mereka hidup dengan sebenar-benarnya berjiwa dan bersemangat membela Rabbnya, Nabinya dan Agamanya di dalam kehidupan mereka?

Apakah dengan meneruskan kehidupan tanpa mempunyai semangat dan jiwa untuk membela Agama Islam adalah suatu kebahagiaan dan kepuasan? Apakah dengan memiliki pemikiran dan sikap begitu… kita bisa menghadapi ‘kematian’ dengan rasa puas dan merasa cukup untuk menemui Rabb kita?

Aku renungkan dengan lebih dalam lagi…… persoalan beginilah yang selama ini selalu bermain-main di dalam benak pemikiran ku! Aku sudah memiliki satu tekad! Aku tidak akan membiarkan diri ku ini hidup… tanpa mempunyai sikap dan semangat membela agama ku!

Aku semakin sadar…… aku akan membela agama ku! Aku akan berusaha membangkitkan semangat anggota keluargaku dan saudara-saudaraku supaya mereka memiliki semangat hidup untuk membela agama mereka sendiri sepanjang hayat. Aku akan pupuk semangat itu supaya tertanam didalam jiwa raga mereka.

Supaya mereka hidup sebagai seorang manusia yang berjiwa berani membela agama! Supaya mereka tidak hidup dengan sia-sia saja! Supaya mereka merasa puas hidup dan lebih berarti didalam mengharungi kehidupan mereka! Supaya mereka tua dan mati didalam keadaan puas berjiwa berani karena hidup membela agama mereka sendiri!

Mati Hanya Sekali Jadikan ianya di jalan Allah

Wallahu A’lam.

Tuesday, April 25, 2006

MELURUSKAN: Sesatkah Ajaran SALAFUSH SHALIH?

Sesatkah Ajaran SALAFUSH SHALIH?

Dan inilah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu menceraiberaikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-An’am 153)

Al-Islam adalah kebenaran. Al-Islam adalah jalan Allah yang lurus. Maka ikutilah jalan ini, jangan ikuti selainnya. Segala yang berasal dari Al-Qur’an adalah kebenaran, karena Al-Qur’an bersumber dari Yang Maha Benar. Tidak ada kebenaran lain selain Al-Qur’an, selain Al-Islam.

Adalah sebuah realitas bahwa umat Islam kini dalam keadaan berpecah belah, tidak bersatu. Umat Islam telah berkelompok-kelompok, bersekte-sekte, berpartai-partai, ber..ber..ber… Masing-masing kelompok, grup, jama’ah, atau organisasi merasa bahwa dirinyalah yang paling benar. Di luar kelompoknya, di luar jama’ahnya, di luar organisasinya, akan dianggap salah. Bahkan timbul ajaran takfir yaitu saling mengkafirkan orang yang berada di luar kelompok masing-masing. Tragis!

Sikap saling melabel, saling mencap, dan saling mengklaim ini, begitu parah terjadi dalam tubuh umat Islam. Dan ini terjadi sejak berabad-abad yang lalu, sesuai dengan ramalan Rasulullah SAW: “Umatku kelak akan berpecah menjadi 73 golongan, 72 golongan akan masuk neraka dan satu golongan akan masuk surga. Sahabat bertanya: “Siapakah satu golongan itu wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab: “Al-Jama’ah”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Dalam riwayat lain diterangkan bahwa Al-Jama’ah yang dimaksud adalah: “Apa yang Aku (Rasulullah SAW) dan sahabat-sahabatku berada di atasnya.”

Sayangnya, hadits-hadits tersebut disalahinterpretasikan oleh banyak pihak, sehingga timbul klaim bahwa Al-Jama’ah yang dimaksud dalam hadits tersebut adalah kelompoknya sendiri dan bukan kelompok orang lain.

Di Indonesia ada Kelompok Salafiyun Atsary, MMI, JI, DI/TII, HT (Hizbut Tahrir), IM (Ikhwanul Muslimin), PERSIS, NU, Muhammadiyah, Tabligh, Sufi, LDII, dan lain-lain. Lalu siapakah yang benar dan siapakah yang salah? Siapakah yang lurus dan siapa yang sesat? Masalah di atas tidak akan selesai dibahas. Sudah terlalu banyak buku-buku yang mengulas hal semacam ini. Pada lain kesempatan akan kita bicarakan. Insya Allah.

Sekarang, akan kita paparkan metode yang harus kita tempuh dalam memahami Islam. Jika seseorang terjebak pada metode Khawarij, maka ia akan begitu mudah mengkafirkan seseorang dengan hanya satu dosa yang diperbuatnya. Sebaliknya jika seseorang terjebak pada metode Murji’ah, maka ia akan terlalu meremehkan dosa sebesar apapun sekalipun dosa-dosa itu menyebabkan seseorang menjadi murtad atau musyrik.

Khawarij terlalu ketat, sedang Murji’ah terlalu longgar. Dua-duanya adalah sikap ghuluw (ekstrim) yang dilarang dalam Islam. seorang yang berzina akan dianggap kafir oleh Khawarij. Sedangkan seorang yang menyembah batu, yang telah jelas kesyirikannya, atau seorang yang mengganti hukum Islam (Al-Qur’an dan Hadits) dengan hukum yang lainnya (Pancasila dan UUD 45) secara sengaja, dalam pandangan kaum Murji’ah dianggap sebagai, ‘tidak apa-apa’. Banyak lagi metode-metode lain yang semuanya itu bersifat ekstrim alias berlebihan.

Dari sini, terdapatlah satu metode dalam memahami Al-Qur’an dan Sunnah berdasarkan manhaj Salafus Shalih yang bersifat adil, moderat, dan tidak ekstrim. Seluruh imam empat madzhab (Syafi’i, Hambali, Hanafi dan Malik) menggunakan metode ini.

Mengapa Harus SALAFUSH SHALIH?

Al-Qur’an dan Sunnah (hadits shahih) adalah kebenaran mutlak (absolut). Seluruh kaum Muslimin telah memahami hal ini. Persoalannya adalah, dunia peradaban semakin berkembang, populasi manusia semakin banyak, tipu daya setan semakin canggih, generasi demi generasi telah berganti.

Keinginan kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah pada akhirnya menuntut adanya intepretasi atau penafsiran. Dalam membaca Al-Qur’an, seribu kepala bisa memunculkan lebih dari satu bentuk penafsiran. Salah tafsir dalam hal yang bersifat furu’ (cabang) barangkali bisa ditolerir, tetapi dalam hal-hal yang bersifat ushul (dasar) tentu hal tersebut dapat merusak akidah. Tidak jarang dapat berujung pada batalnya keislaman seseorang.

Pada era sekarang, tak satu pun orang berhak mengklaim bahwa penafsirannya terhadap Al-Qur’an dan Sunnah sebagai paling benar. Demikian juga pada beberapa generasi (qurun) sebelum kita. Mereka yang penafsirannya benar dan paling benar adalah mereka yang telah mendapat jaminan dari Allah dan Rasul-Nya. Mereka adalah orang-orang yang Allah ridha terhadap mereka dan mereka ridha terhadap Allah. Mereka adalah orang-orang yang telah Allah jamin masuk surga.

Siapakah mereka?

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah. Dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS. At-Taubah: 100).

Mereka adalah generasi sahabat Nabi –radhiyallahu ‘anhum- dan generasi tabi’in. Dalam ayat di atas Allah menjamin kebaikan mereka, bahkan memastikan jaminan surga bagi mereka. Melalui Rasulullah SAW, kepada merekalah ayat-ayat Al-Qur’an diturunkan. Mereka generasi yang menyaksikan turunnya ayat demi ayat, untuk selanjutnya mereka mengamalkannya dalam seluruh aspek kehidupan.

Merekalah generasi yang paling mengerti tentang tafsir seluruh ayat Al-Qur’an, karena mereka langsung bertanya kepada Rasulullah dalam segala urusan, sementara Rasulullah langsung dibimbing oleh Allah. Mereka jugalah yang menuliskan ayat-ayat Al-Qur’an di atas daun lontar, tulang, pelepah kurma dan lain-lain, sampai kemudian dibukukan oleh Khalifah Utsman bin Affan dalam bentuk mushaf Utsmani. Sehingga kini kita tinggal membaca, memahami, menghayati dan mengamalkannya. Tak ada yang kurang sedikit pun meski hanya satu huruf.

Ayat di atas merupakan bukti pengakuan Allah terhadap kebenaran sahabat dan tabi’in. Kemudian Rasulullah SAW besabda: “Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian generasi berikutnya, kemudian generasi berikutnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dalam hadits itu Rasulullah menjamin kebaikan kurun generasi pertama Islam. Satu qurun berarti satu abad. Satu abad berarti 100 tahun. Dengan demikian, tiga qurun berarti sekitar tiga abad. Pada tiga abad pertama itulah kehidupan bermula dari era Rasulullah, kemudian tabi’in dan tabi’ut tabi’in.

Dalam kesempatan lain Rasulullah SAW bersabda: “Wajib kalian (umat Islam) mengikuti sunnahku dan sunnah (kebiasaan) khulafaur-rasyidin yang mendapat petunjuk (khalifah) Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali).” (HR. Al-Bukhari).

Dalam tiap-tiap kurun itu terdapat ulama. Ulama terkemuka di kurun sahabat adalah Ibnu Abbas dan Ibnu Mas’ud. Di zaman tabi’in, ada Imam Qatadah, Imam Mujahid, Imam Muqatil. Imam empat Madzhab (Syafi’i, Hambali, Maliki, Hanafi) masih termasuk dalam tiga abad pertama hijriyah, sehingga penafsiran-penafsiran dan pemahaman mereka bisa dianggap bersih, selamat dan benar.

Jaminan dan pengakuan serupa tidak Allah berikan kepada generasi setelah tiga kurun pertama hijriyah, yakni mereka yang hidup mulai awal abad empat hijriyah dan seterusnya. Penafsiran dan pemahaman mereka tentang Al-Qur’an tidak dijamin kebenarannya. Dalam hal-hal tertentu, bisa saja ulama tertentu yang hidup setelah tiga abad pertama hijriyah memiliki penafsiran yang sama dengan ulama atau generasi tiga abad pertama hijriyah. Tetapi kesamaan tersebut belum berarti jaminan.

Manusia terdidik, saat akan menggunakan suatu produk, tentu akan memilih produk yang telah disahkan oleh quality control dan memiliki semacam “garansi” atas barang yang dibelinya. Dalam kehidupan biasa, sebut misalnya dunia kedokteran, bisa jadi seorang mahasiswa yang drop-out memiliki kemampuan dan pengalaman yang lebih daripada lulusan fakultas kedokteran. Akan tetapi seorang dokter yang mengantongi izin praktik, dan memiliki ijazah, atau sertifikat pengakuan dari instansi yang berkompeten, adalah lebih wajar dan lebih bisa dipercaya untuk menjalankan praktek diagnosis serta pengobatan.

Seorang yang berpikiran waras dan normal tentu akan memilih kendaraan yang dilengkapi STNK dan BPKB asli daripada kendaraan bodong –yang ia memang asli bodong atau tidak dilengkapi dokumen asli saat dibeli-. Jadi pada dasarnya manusia memiliki naluri untuk menggunakan atau memilih sesuatu yang terbaik dalam hal apapun dalam kehidupannya.

Jika untuk kepentingan dunia yang hanya bersifat sementara saja manusia begitu selektif, hati-hati dan waspada, maka bukankah dalam memahami dien hal serupa harus lebih ditekankan? Terlebih hal tersebut menyangkut kehidupan di akhirat kelak, yang kekal dan abadi. Karenanya, seseorang harus lebih jeli dan waspada dalam memilih manhaj (metodologi) yang meliputi segala aspek kehidupannya mulai dari ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, hankam dan aspek-aspek lain.

Al-Qur’an adalah kebenaran mutlak. Tetapi salah menafsirkannya akan menimbulkan faham yang salah. Pemahaman yang salah akan menimbulkan keyakinan yang salah. Keyakinan yang salah akan melahirkan amal perbuatan yang salah. Inilah yang disebut sesat.

Untuk itulah, Al-Qur’an tidak boleh ditafsirkan oleh sembarangan orang. Hanya mereka yang memiliki kompetensi dan kapabilitas tertentu sajalah yang berhak menafsirkan Al-Qur’an dan Sunnah. Mereka yang mengerti kapan, di mana, atas sebab apa dan kepada siapa ayat Al-Qur’an diturunkan, tentu lebih berhak menafsirkan dan menjelaskan Al-Qur’an kepada manusia. Rasulullah adalah manusia yang paling mengerti, paling berhak, paling berkompeten dan paling kapabel dalam menafsirkan dan menjelaskan Al-Qur’an kepada manusia. Sunnah (ucapan, perbuatan dan pembenaran) Rasulullah adalah tafsir hidup dari Al-Qur’an secara langsung. Dan itulah kebenaran.

Kaum mukminin yang pernah hidup bersama dengan Rasulullah SAW, kemudian mengikuti segala perilaku beliau SAW, tidak menambah dan tidak mengurangi, kaum inilah yang disebut secara khusus sebagai, “sahabat” –radhiyallahu ‘anhum” (Allah meridhai mereka)-. Perilaku sahabat yang sesuai dengan perilaku Nabi adalah juga kebenaran. Di antara sahabat Nabi terdapat empat Khalifah (Abu Bakar, Umar bin Khatthab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib). Pemahaman, penafsiran dan perilaku empat khalifah tersebut juga wajib diikuti oleh seluruh kaum Muslimin.

“Wajib kalian mengikuti sunnahku dan sunnah khulafaur rasyidin al-mahdiyyin.” (HR. Bukhari).

Di belakang para sahabat, terdapat generasi tabi’in yang mengikuti jejak langkah perilaku Nabi Muhammad dan para sahabat dengan ihsan (baik). Mereka yang mengikuti sunnah Nabi Muhammad disebut Ahlus-Sunnah. Rasulullah juga memerintahkan umatnya untuk mengikuti sunnah jama’ah para sahabat. Sunnah yang dilakukan oleh jama’ah sahabat sama sekali tidak bertentangan dengan sunnah Nabi Muhammad SAW.

Jika sunnah sahabat bertentangan dengan sunnah Nabi, tentulah beliau tidak akan berkata: “Apa yang Aku dan sahabatku berjalan di atasnya.” Dan kalaulah sunnah sahabat terutama Khulafa’ Ar-Rasyidin bertentangan, tentulah beliau tidak akan bersabda: “Wajib kalian mengikuti sunnahku dan sunnah (kebiasaan) Khulafa’ Ar-Rasyidin yang mendapat petunjuk.” Mereka yang mengikuti jejak langkah Nabi Muhammad dan sahabat disebut sebagai Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah.

Rasulullah telah tiada, tetapi risalah kenabian telah sempurna. Al-Qur’an dan Sunnah telah ada di hadapan kita. Generasi Salafush Shalih telah tiada. Jasad dan ruh mereka tidak lagi berada di antara kita. Tetapi, mereka meninggalkan karya-karya tulis. Pendapat-pendapat mereka diabadikan oleh generasi terdekat setelah mereka.

Dunia Islam mengenal nama-nama besar sahabat dan tokoh-tokoh ulama Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah dengan manhaj Salafush Shalih. Misalnya, empat Imam Madzhab, Imam Qatadah, Imam Mujahid, Imam Sufyan bin Uyainah (guru besar Imam Syafi’i), Imam Muqatil, Imam Ibnu Taimiyyah, Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, dan ribuan lagi nama-nama besar yang tak mungkin disebutkan di sini.

Dan setelah itu serta pada abad 20-21 yang sekarang ini kita hidup di dalamnya, dunia Islam mengenal nama-nama ulama kaliber internasional yang berusaha menempuh manhaj Salafush Shalih. Terlepas dari tuduhan Khawarij atau Murji’ah oleh pihak-pihak tertentu, mereka adalah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, Syaikh Muqbil Al-Wadi’i Al-Yamani, Syaikh Rabi’ Al-Madkhali, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, Syaikh Bin Baz, Syaikh Hammud Uqala’ Asy-Syu’aiby, Syaikh Al-Albani, Syaikh Salman Fahd Al-Audah, Syaikh Dr. Safar Al-Hawali, Syaikh Dr. Aiman Azh-Zhawahiri, Syaikh Sulaiman Abu Ghaits, Syaikh Asy-Syahid Dr. Abdullah Azzam, Syaikh DR. Aidh Al-Qarni, Syaikh Al-Maqdisi, Syaikh Hasan Al-Banna, Sayyid Quthb, Syaikh Usamah bin Ladin dan beberapa nama lain.

Dalam masalah akidah, kita tidak mendapati perbedaan pendapat di antara mereka. Adapun soal furu’ hal itu bisa terjadi. Dan Islam tidak melarangnya, selagi berada dalam koridor syari’at. Secara pribadi dan keluarga, dalam masalah berpakaian misalnya, jilbab atau hijab atau cadar, kita lebih setuju dan ‘pas’ dengan fatwa para ulama Saudi Arabia, seperti Syaikh bin Baz, Syaikh Ibnu Utsaimin, Syaikh Hammud At-Tuwaijiry, dan lain-lain.

Dalam menyikapi dan menjaga diri berserta keluarga dari musik dan alat-alat hiburan lain, selain berpegang pada Syaikh Muhaddits Nashiruddin Al-Albani, kita juga berpegang pada fatwa para ulama anggota Dewan Fatwa Saudi Arabia. Dalam masalah jihad kita berpegang pada fatwa para ulama mujahid, yang mereka terjun langsung dan terlibat dalam jihad seperti Syaikh Aiman Azh-Zhawahiri, Syaikh Sulaiman Abu Ghaits, Syaikh Dr. Abdullah Azzam, Syaikh Usamah bin Ladin, Syaikh Maulani Mullah Umar, juga fatwa Syaikh Hammud Uqala’ Asy-Syu’aiby rahimahullah. Nama terakhir figur yang menjadi “guru besar” para ulama anggota Dewan Fatwa Saudi Arabia.

Meski demikian, kita tidak berani menelan mentah-mentah fatwa-fatwa mereka. Sebab ijtihad seorang ulama bisa jadi benar bisa jadi salah. Karenanya, kita berusaha membuat perbandingan fatwa-fatwa yang keluar dari ulama-ulama tersebut. Kita mencari titik-titik persamaan selagi mungkin. Jika tidak mungkin, kita memperhatikan dalil-dalil yang digunakan oleh masing-masing ulama dalam berfatwa. Fatwa yang kita yakini lebih kuat, atau lebih mendekati kebenaranlah yang kita pegang dan kita amalkan. Wallahu a’lam.

Memahami Islam dengan metode seperti inilah yang dikenal dengan manhaj Salafush Shalih. Pada skala yang lebih luas, biasa dikenal sebagai aliran Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah. Hanya orang-orang yang tergesa-gesa, berpikiran sempit dan tak tahu diri sajalah yang berani menyatakan bahwa jalan semacam ini sebagai “salah” atau “ajaran sesat”.

Karenanya, hendaklah mereka yang bisa berfikir ilmiah berhati-hati dalam memberi komentar atau label bagi mereka yang menempuh jalan berbeda dengan yang ia tempuh. Memberikan label “sesat”, “puritan”, “sempalan”, “ekstrimis”, dan lain-lain kepada kelompok tertentu, tanpa memeriksa atau mempelajari latar belakang dan dalil-dalil yang mereka pergunakan, pada akhirnya akan menjadi ‘bumerang’ bagi diri sendiri. Tindakan bodoh seperti itu hendaklah dihindari.

Wallahu A’lam.

Risalah dari hamba Allah yang dibuat dalam penjara pemerintah Thaghut Indonesia.

SATRIA SEJATI
Putera Islam”

NASEHAT: SALAFUSH-SHALIH (Upaya Menyatukan Persepsi Ummat)

SALAFUSH-SHALIH
(Upaya Menyatukan Persepsi Ummat)

Empat belas abad yang lalu, dunia ini digemparkan oleh munculnya sebuah ajaran yang sangat unik dan asing bagi masyarakat yang hidup pada masa itu. Sebuah ajaran yang bermuara dari wahyu, datang untuk menuntun umat manusia dari gelapnya alam jahiliyyah menuju terangnya lentera iman, sebuah ajaran yang mengentaskan bani Adam dari penghambaan kepada manusia kepada penghambaan kepada Allah Dzat Pencipta manusia, sebauh ajaran yang mengeluarkan mereka dari sempitnya dunia menuju luasnya akhirat.

Islam… inilah nama ajaran yang unik itu.

Islam… inilah nama ajaran yang asing itu.

Memang Islam datang untuk melipat peradaban jahilyyah dan semua watak plus karakter yang dimilikinya, lalu menggelar peradaban ilahi yang sarat dengan nilai-nilai akidah, akhlak, moral dan spritual, serta menuntun manusia dalam menapaki fitrahnya yang suci dan membebaskan mereka dari jerat-jerat syetan dan kerikil-kerikil kemusyrikan yang senantiasa menjadi perintang dihadapannya.

Meskipun munculnya Islam pada saat itu sangat terasa asing, namun cahaya kebenaran yang dibawa Islam mampu mencairkan bekunya hati para penyembah berhala pada masa itu, dan berhasil menghancurkan kerasnya tradisi jahliyyah yang sudah melekat dan mendarah daging dikalangan mayoritas penduduk Jazirah Arabia dikala itu. Ibarat orang yang sedang kehausan di tengah gurun pasir lalu mendapatkan air, mereka berbondong-bondong baik secara individu ataupun secara berkelompok untuk memproklamirkan diri mereka mengikrarkan dua kalimat syahadat Asyahadu anla ilaha illallah wa asyahadu anna muhammad rasulullah, masuk ke dalam Dien Islam.

Jika telah datang pertolongan Allah dan kemenangan. Dan engkau lihat manusia masuk kedalam Dienullah dengan berbondong-bondong. Maka bertasbihlah dengan memuji Rabb-mu dan beristighfarlah kepada-Nya, sesungguhnya Dia Maha Penerima taubat.” (QS. An-Nashr: 1-3)

Sehingga tidaklah mengherankan kalau dalam rentang waktu yang relatif singkat, cahaya Islam sudah menerangi seluruh semenanjung Arabia mulai dari Hijaz, Najd sampai pada Yaman dan Oman, bahkan dalam beberapa dasa warsa kemudian Islam telah melebarkan sayapnya dengan mengayomi sekitar duapertiga belahan dunia.

Hal ini membuktikan betapa tepatnya nubuwat Rasulullah saw.: “Dari Tsauban bahwasanya Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya Allah telah melipat bumi ini untukku, sehingga aku dapat melihat belahan timur dan baratnya. Dan kekuasaan ummatku akan mencapai apa yang telah diperlihatkan kepadaku, dan aku telah diberi dua buah istana Romawi dan Persia.” (HR. Muslim).

Namun seiring dengan meluasnya kekuasan Islam dan banyaknya negeri-negeri yang dulunya dibawah kekuasaan dua super power dunia saat itu kini menjadi bagian dari wilayah Khilafah Islamiyah, timbullah problematika baru yang mengancam keutuhan Islam, khususnya yang berkenaan dengan akidah, ibadah dan pemahaman Dien Islam itu sendiri.

Hal ini disebabkan karena sebagian dari penduduk negeri-negeri Islam yang baru tersebut dalam mempelajari dan mengamalkan Islam masih terpengaruh, tercemari dan tercampur dengan ajaran-ajaran nenek moyang mereka yang notabene merupakan ajaran jahiliyyah yang sama sekali bertentangan dengan Islam. Ditambah lagi dengan adanya upaya dari beberapa Khalifah Abbasiyah –yang mencapai puncaknya pada masa Al-Ma’mun- yang memerintahkan untuk menterjemahkan buku-buku filsafat Yunani dan Romawi kuno karya Aristoteles, Socrates dan lain-lain ke dalam bahasa Arab. Ini semua sangat mempengaruhi kemurnian visi dan pemahaman akan akidah Islam yang benar.

Maka timbullah berbagai firqah yang berbaju Islam, tetapi menyimpang dari ajaran Islam yang benar. Seperti firqah Khawarij yang mengkafirkan seorang muslim yang melakukan dosa besar. Firqah ini lahir setelah timbulnya pertikaian antara Ali dan Muawiyah tahun 37 H. Lalu muncullah firqah Syi’ah yang mengkultuskan Ali dan mengkafirkan sebagian besar sahabat Rasulullah saw.. Disusul munculnya paham Qadariyah yang dibawa Ma’bad Al-Juhany tahun 80 H. Kemudian paham Murji’ah yang dibawa oleh Ghalayan Ad-Dimasqy tahun 105 H. Dan Mu’tazilah serta Jahmiyah yang masing-masing dipelopori oleh Washil bin ‘Atho (130 H) dan Jahm bin Shofwan (128 H) dimana kedua kelompok ini mengingkari seluruh sifat-sifat yang dimiliki Allah Ta’ala.

Ini semua adalah sebagian dari 72 firqah yang menyimpang dari madzhab Ahli Sunnah wal Jama’ah dalam memahami Dien, sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah saw.: “Dan ummatku akan terpecah menjadi 73 golongan semuanya masuk Neraka kecuali hanya satu.” Para sahabat bertanya: “Siapakah golongan yang satu itu wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Mereka orang-orang yang mengikuti jalanku dan jalan para sahabatku.” (HR. Tirmidzi dan dihasankan oleh Syeikh M. Nashiruddin Al-Albani).

Ironisnya, semua firqah yang ada dan tersebar dinegeri-negeri Islam, mereka mengaku bahwa mereka adalah bermadzhab Ahlu Sunnah wal Jama’ah, sebagai Firqah Najiyah atau Thaifah Al-Manshurah, padahal golongan yang selamat yang disinyalir oleh Rasulullah saw. dalam hadits di atas hanya satu jumlahnya, tidak berbilang, yaitu golongan yang berprinsip maa ana alaihi wa ash’haabii (Mereka orang-orang yang memahami dan mengamalkan Islam seperti aku dan para sahabatku amalkan).

Ini berarti kalau kita ingin termasuk golongan Ahlu Sunnah wal Jama’ah yang hakiki, hendaklah kita dalam memahami Dien kita merujuk kepada Al-Qur’an, As-Sunnah, perkataan para sahabat, Tabi’in, Tabi’ut Tabi’in serta para imam yang mendapat petunjuk dan terpercaya.

Inilah yang dinamakan manhaj Salafus Shalih, satu-satunya manhaj yang benar yang wajib kita ikuti, kita teladani dan kita jadikan rujukan dalam mempelajari, mengajarkan, mengamalkan dan memperjuangkan dien Islam ini.

Mungkin diantara kita ada yang bertanya: “Mengapa kita harus berpegang teguh kepada manhaj salaf, apakah tidak ada manhaj lain yang dapat membimbing kita kearah pemahaman Islam yang benar selain manhaj salaf?”

Maka dengan tegas jawabannya tidak ada, karena hanya salaflah satu-satunya manhaj yang benar dalam memahami Islam yang berdiri di atas landasan Al-Qur’an, As-Sunnah, pendapat serta ijma’ para sahabat serta Tabi’in dan Tabi’ut Tabi’in.

Disamping itu, kelurusan, keutuhan, kesempurnaan dan kebenaran manhaj salaf dalam memahami Dien Islam tidak perlu diragukan lagi, karena mereka para salafus-shalih telah mendapat tazkiyah (rekomendasi) langsung dari Allah dan Rasul-Nya. Oleh Allah swt. mereka diberi gelar “Khairu Ummah” sedang oleh Rasulullah saw. mereka dijuluki Khairu’n-Naas dan Khairul-Qurun.

“Kalian adalah ummat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, memerintahkan pada yang ma’ruf dan mencegah dari hal-hal yang mungkar dan beriman kepada Allah.” (QS. Ali-Imran: 110).

“Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian generasi sesudah mereka, kemudian generasi sesudah mereka.” Dan dalam riwayat lain disebutkan sebaik-sebaik generasi. (HR. Ahmad, Bukhari dan Muslim).

Itulah sebabnya Abdullah bin Mas’ud ra. ketika menasehati para sahabatnya beliau berkata: “Barangsiapa yang ingin menjadikan seseorang sebagai teladan hendaklah ia mengambil para sahabat Rasulullah saw. sebagai teladannya, karena mereka itulah orang-orang yang paling baik hatinya, paling banyak ilmunya, paling sedikit basa-basinya, paling lurus petunjuknya dan paling baik keadaanya. Mereka adalah suatu kaum yang dipilih Allah untuk mendampingi Nabi-Nya dalam menegakkan Dien-Nya. Maka akuilah keutamaan mereka dan ikutilah jejak langkah mereka karena sesungguhnya mereka berada di atas petunjuk yang lurus.” (Al-Jami’ Fi Bayanil Ilmi Wa Fadhlihi, Ibnu Abdil barr).

Demikian pula imam Al-Auza’i dalam sebuah nasehatnya beliau berkata: “Hendaklah kamu berpegang teguh kepada atsar yang bersumber dari salaf meskipun banyak orang menentangmu dan jauhilah olehmu pendapat orang-orang selain mereka meskipun mereka mengemas perkataan-perkataannya dengan indah dan menarik.”

Kalau para ulama terdahulu yang hidup pada kurun tiga abad pertama Hijriyah menasehati murid-muridnya untuk tidak mengikuti sembarang pendapat dan perkataan, padahal kemurnian pemahaman mereka tentang Dien relatif jauh lebih baik dari keadaan kita sekarang, maka kita orang yang hidup setelah mereka mestinya lebih utama lagi untuk merujuk kepada salafus shalih agar pemahaman kita tentang Islam lurus sama seperti pemahaman mereka.

Mengapa kita harus bersikap demikian?

Untuk menjawab pertanyaan ini alangkah baiknya kalau kita menyimak sabda Rasulullah saw.: “Tidaklah kalian melewati satu tahun bahkan satu haripun kecuali masa yang sesudahnya lebih buruk dari masa yang sebelumnya sehingga kalian menjumpai Rabb kalian.” (HR. Ahmad dan Bukhari).

Logikanya, semakin jauh jarak kehidupan umat Islam dari jaman terbaik (periode sahabat) maka akan semakin buruk kondisi umatnya dari segi iman, ilmu maupun amalnya.

Oleh karenanya, kalau kita ingin tetap mempertahankan keutuhan visi dan pemahaman Islam kita, maka tidak ada jalan lain kecuali kita harus merujuk pada sumber aslinya yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah berdasarkan pemahaman para salafus shalih.

Kalau kita sudah meyakini bahwa manhaj salaf adalah manhaj yang paling benar yang membawa kita kepada pemahaman Islam yang lurus, maka kita harus siap menanggung segala konsekuensi dari pengakuan kita, karena bukan hal yang mustahil kita akan dicemooh, dicela, dihina dan direndahkan oleh sebagian orang yang tidak tahu hakikat yang sebenarnya.

Tidak menutup kemungkinan mereka akan mengatakan: “Manhaj salaf adalah kuno, kolot dan ketinggalan jaman, sudah tak sesuai lagi untuk diterapkan pada masa sekarang ini.” Syubhat-syubhat semacam ini bisa jadi akan muncul kepermukaan, lalu bagaimana kita membantahnya?

Jawabnya sudah ada pada sabda Rasulullah saw.: “Islam muncul dalam keadaan asing dan kelak ia akan kembali menjadi asing. Maka beruntunglah mereka orang-orang yang asing tersebut.” Rasulullah ditanya: “Siapakah orang-orang yang asing itu wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Mereka adalah orang-orang yang berbuat ishlah (perbaikan) disaat manusia mulai rusak dan menyeleweng.” (HR. Ahmad) Dalam sebuah riwayat: “Mereka adalah orang-orang yang menghidupkan sunnahku dan mengajarkannya kepada manusia.”

Jadi disaat pertama kali Islam muncul ia muncul dalam keadaan asing karena harus berhadapan dengan ajaran-ajaran jahiliyyah yang beragam dan berkembang pada masa itu, mulai dari menyembah berhala, patung, menyembah api sampai pada menyembah malaikat serta berbagai bentuk penyembahan lainnya. Dan kelak Islam akan kembali menjadi asing ditengah-tengah pemeluknya sendiri, karena disaat itu berbagai penyimpangan lainnya yang oleh pelakunya ditutupi dengan baju Islam, sehingga orang-orang yang benar-benar berpegang teguh kepada akidah dan amaliyah Islam yang benar, yang menghidupkan sunnah-sunnah nabi yang sudah banyak dilupakan orang akan terasa asing.

Maka sagatlah tidak berlebihan kalau Rasulullah saw. menggambarkan keadaan suatu masa setelah wafatnya beliau dengan sabdanya: “Kelak akan datang suatu masa dimana orang yang sabar dalam mengamalkan Diennya pada masa itu ibarat orang yang menggenggam bara.” (HR. Tirmidzi).

Jadi kalau kita ingin benar-benar berpegang teguh di atas Dien Islam, kita harus tabah dan sabar dalam menghadapi berbagai resiko yang akan timbul. Kita juga dituntut untuk tetap komitmen di atas jalan yang benar meskipun orang yang mengikuti kita sangat sedikit. Camkanlah baik-baik kata-kata Sofyan bin Uyainah Rahimahullah guru dari Imam Asy-Syafi’i: “Tetaplah kamu melangkah di atas jalan yang haq dan janganlah kamu merasa kecil hati lantaran sedikitnya orang yang mengikuti Al-Haq tersebut.”

Mudah-mudahan kita semua selalu tetap dibimbing oleh Allah untuk tetap berada diatas kebenaran dan dikaruniakan kepada kita kesabaran dan ketabahan dalam mempelajari, mengamalkan dan memperjuangkan Dienul Islam ini sampai masing-masing dari diri kita kembali kepada Allah swt.

Wallahu ‘alam.

Dari berbagai sumber.

SATRIA SEJATI
“Putera Islam”

ILMU: PENGANTAR KEPADA PEMAHAMAN SALAFUSH SHALIH

PENGANTAR KEPADA PEMAHAMAN SALAFUSH SHALIH

I. PENDAHULUAN

Kita tahu bahwa umat Islam dimana-mana dewasa ini tertindas. Semua para ahli Islam mengerahkan tenaga dan pikiran untuk mendeteksi sebab-sebab kelemahannya. Mayoritas sepakat bahwa sebab utama lemahnya umat Islam diakibatkan oleh jauhnya mereka dari Islam, ini seperti yang dikabarkan oleh hadits Rasulullah saw. yang artinya:

“Jika kalian sudah berdagang dengan riba, rela dengan pertanian, mengikuti ekor-ekor sapi (beternak) dan meninggalkan jihad, niscaya Allah akan menguasakan kehinaan pada kalian yang tidak diangkat kehinaan tersebut sampai kalian kembali kepada dien kalian.” (Hadits shohih riwayat Ahmad, Abu Daud, Baihaqi dll).

Kenyataan itu sudah menjadi fakta, dan mengharuskan kita kembali kepada Dien yang mulia ini. Kita menyaksikan kaum muslimin berbondong-bondong kepada ajaran Islam baik dalam uskup pemerintah, organisasi, jama’ah dan perorangan.

Namun pertanyaannya, apakah mereka sudah benar-benar kembali kepada Islam? Bagaimana caranya? Semuanya menyerukan mari kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah Rasul, namun dengan pemahaman mereka sendiri. Akibatnya berbagai kesesatan timbul.

Otak, hawa nafsu dan kepentingan dikedepankan dan diblasteri (dikemas) dengan dalil-dalil yang tak jarang tidak ada hubungannya. Sungguh ini adalah musibah. Setiap orang berbicara atas nama Islam, apakah itu ulama ‘suu’ (ulama jahat), penceramah, pedagang, pelawak dan lain-lain, tanpa rasa malu mereka berfatwa. Apabila ditanya, mereka menjawab dengan jawaban “saya kira”, “menurut saya” dan sebagainya.

Dalam skup organisasi dan pemerintahan selalu menyerukan kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah Rasul dan kalau kita sampaikan Al-Qur’an dan Sunnah Rasul seperti yang dipahami oleh salafus shalih, generasi pilihan sampai abad ketiga, serta merta mereka mengatakan: “Itu pendapat yang sesat, ganjil, terbelakang dan lain sebagainya”, sebagai tuduhan yang bathil. Bahkan lebih aneh lagi mereka yang menyerukan kembali kepada salaf, namun sepak terjangnya berlawanan sama sekali dengan kehidupan salaf. Di antara mereka ada yang senang bid’ah dan berakidah Asy ‘Ariyah, ada pula yang berakidah salaf tapi tidak berakhlak salaf.

Benar sekali perkiraan Abdullah bin Mas’ud: “Kalian akan menemui golongan-golongan yang mengaku mengajak kalian kepada Kitabullah, padahal mereka menaruhnya (Al-Quran) dibelakang punggungnya, maka kalian harus berilmu dan awas berbuat bid’ah, awas jangan berlebih-lebihan, awas jangan kelewatan dan kalian harus berpegang teguh dengan Al-Atiq (terdahulu/salaf). (HR. Ad-Darimi dan Al-Laalkaaiy).

Oleh sebab itu penting sekali mengajak umat Islam kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah saw. sesuai dengan pemahaman salafus shalih secara utuh. Karena itu merupakan rel yang membawa gerbong ummat Islam menuju keselamatan dan kejayaan dunia dan akhirat.

Ibnu Rajab berkata: “Sebaik-baik ilmu dalam tafsir Al-Qur’an dan makna-makna hadits dalam hal halal dan haram adalah yang didapat dari sahabat-sahabat dan tabi’in serta tabi’ut tabi’in sampai dengan imam-imam yang terkenal yang diikuti.”

Untuk itu kita harus mengetahui gambaran utuh dari salafus shalih agar kita dapat mengikuti mereka sebaik mungkin dalam rangka li I’laai kalimatillah demi mencapai ridha Allah swt..

Berikut ini pengantar kepada salafus shalih sebagai upaya untuk mengenal, menghayati, mengamalkan dan memperjuangkannya.

II. PENGERTIAN SALAFUS SHALIH

Menurut bahasa: Salaf berasal dari kata “salafa” yang berarti: mendahului, melewati, yang lalu, terdahulu dan lain sebagainya. Sementara kata shalih berarti baik sebagaimana diskripsi/sifat bagi kata salaf itu. (Lisanul Arab, Ibnu Mandzur II/184).

Menurut syara’: Salafus shalih adalah generasi sahabat yang telah beriman dan mengikuti jejak Rasulullah saw. dan diikuti oleh generasi berikutnya tabi’in dan tabi’ut tabi’in sampai abad ketiga yang berpedoman kepada Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah saw.. Dan bagi siapa saja yang mengikuti mereka disebut salafiy sebagai nisbah kepada salaf. (Makalah Shilatu dakwah, Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab, Ma’alim inthilaqatul Kubra 51-52).

Manhaj salaf: Cara atau jalan yang ditempuh oleh Nabi dan sahabat-sahabatnya serta yang mengikuti mereka sampai generasi ketiga termasuk diantaranya Abu Hanifah, Imam Malik, Syafi’i, Ahmad, Bukhari, Muslim, dan ahli sunan serta ulama-ulama yang terpercaya dimasa itu kecuali ahli bid’ah. Dilanjutkan dan diserukan oleh ulama-ulama abad-abad barikutnya, diantaranya: Ibnu Taimiyah, Ibnu Katsir, Ibnul Qayyim, Adz-Dzahabi dan lain-lain dari garis ulama-ulama terpercaya yang berjalan diatas garis salaf. (Makalah Shilatu dakwah, Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab).

III. DALIL TENTANG WAJIBNYA MENGIKUTI SALAF

A. DALIL-DALIL DARI AL-QUR’AN

1. At-Taubah ayat 100: “Dan orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama (masuk Islam) diantara orang-orang muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai. Itulah kemenangan yang besar.”

2. An-Nisa’ ayat 115: “Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin. Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam jahannam dan itu seburuk-buruk tempat kembali.”

3. Ali Imran ayat 110: “Kamu adalah sebaik-baik ummat yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan melarang dari yang mungkar dan beriman kepada Allah. Kalaulah Ahli Kitab beriman, sungguh itu lebih baik bagi mereka; diantara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasiq.”

B. DALIL-DALIL DARI SUNNAH RASULULLAH SAW.

Nabi saw. bersabda: “Sebaik-baik manusia adalah pada masaku kemudian masa setelahku, kemudian masa setelah itu, kemudian datang suatu kaum yang kesaksiannya mendahului sumpahnya dan sumpahnya mendahului kesaksiannya.” (HR. Ahmad, Bukhari dan Muslim).

Maksud masa Nabi adalah masa para sahabat Radhiallahu ‘Anhum sedang masa sesudah itu adalah masa tabi’in.

“Dari Abdullah bin Basr Radhiallahu ‘Anhu berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Keberuntungan bagi orang-orang yang melihatku, keberuntungan bagi orang-orang yang bertemu dengan orang-orang yang melihatku, bagi mereka keberuntungan dan tempat kembali yang baik.” (HR. Thabrani).

Sedang dalam riwayat Hakim: “Keberuntungan bagi orang yang melihatku, keberuntungan bagi orang yang bertemu dengan orang yang melihatku, keberuntungan bagi orang yang bertemu dengan orang yang bertemu dengan orang yang melihatku.”

C. PERKATAAN AIMMAH (PARA IMAM)

Ibnu Mas’ud berkata: “Sesungguhnya Allah swt. melihat kepada hati hamba-hamba-Nya, maka didapatkan bahwa hati Muhammad saw. sebagai hati hamba-Nya yang terbaik, maka dipilihlah ia dan diutus dengan risalah-Nya, kemudian Dia melihat kepada hati hamba-Nya dan didapatkan dan didapatkan bahwa hati para sahabatnya adalah sebaik-baik hati hamba setelah Muhammad, maka dijadikanlah mereka sebagai pembela Nabi-Nya yang berperang untuk memperjuangkan Dien-Nya.”

Imam Asy-Sya’bi Rahimahullah berkata: “Hendaklah kalian mengikuti atsar para salaf walaupun manusia menolaknya dan jauhilah perkataan orang-orang sekalipun mereka mengemas pendapat mereka (dengan indah).”

Imam Al-Auza’i Rahimahullah berkata: “Bersabarlah kamu diatas sunnah dan berhentilah kamu jika mereka (sahabat) berhenti dan berkatalah dengan perkataan mereka, dan tahanlah terhadap apa-apa yang mereka tahan dan berjalanlah diatas jalan salafus shalih sebelummu, karena apa-apa yang melapangkan mereka adalah kelonggaran bagimu.”

IV. ANCAMAN BAGI YANG TIDAK MENGIKUTI SALAF

Allah swt. berfirman: “Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia kedalam Jahannam dan itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An-Nisa’: 115).

Maksudnya siapa saja yang tidak mengikuti sabilul mukminin (jalannya kaum mukminin) yaitu sahabat-sahabat Nabi, baginya Jahannam. Nauudzubillahi min dzalik.

Rasulullah saw. bersabda: “…maka kalian harus berpegang dengan sunnahku dan sunnah para khulafa ar-rasyidin yang telah mendapatkan hidayah sesudahku. Gigitlah erat-erat dengan gerahammu dan awas kalian dari perkara agama yang dibuat-buat, maka sesungguhnya setiap yang bid’ah itu sesat.” (HR. Abu Daud, Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Abu Bakar Ash-Shidiq ra. berkata: “Tidaklah aku melihat sesuatu yang dikerjakan Rasulullah saw. melainkan aku kerjakan seperti itu, aku takut kalau aku meninggalkan perintahnya, aku akan sesat.” (HR. Ibnu Bathoh).

Ibnu Abbas ra. berkata: “Awas kamu mencela salah seorang dari sahabat Nabi saw. maka Allah akan mencelupkan mukamu ke dalam api neraka.” (HR. Abu Nuaim).

Imam Ahmad berkata: “Pokok-pokok sunnah menurut kami adalah berpegang terhadap apa yang dipegang oleh sahabat-sahabat Nabi saw. serta mengikuti mereka dan meninggalkan bid’ah-bid’ah, setiap yang bid’ah itu adalah sesat.”

Abu Dzar ra. berkata: “Jika kamu melihat seseorang meremehkan seorang sahabat Rasulullah saw., ketahuilah bahwa ia adalah haq dan Al-Qur’an adalah haq dan yang menyampaikan Al-Qur’an dan sunnah-sunnah Rasulullah saw. kepada kita adalah sahabt-sahabat Nabi saw. maksud sesungguhnya mereka (orang-orang zindiq itu) hendak mencerca saksi-saksi kita untuk membatalkan Al-Qur’an dan Sunnah, sungguh mereka lebih pantas untuk dicela.”

Sebab tidaklah seseorang yang meremehkan sahabat seperti Syi’ah, Jaringan Islam Liberal (JIL) dan semacamnya kecuali orang tersebut tergolong ahlu bid’ah dan zindiq, sementara mereka yang berpegang pada salafus shalih disebut ahlus sunnah wal jama’ah.

V. PENUTUP

Demikianlah risalah singkat tentang pengantar menuju pada pemahaman salafus shalih dibuat. Mudah-mudahan Allah swt. melapangkan dada kita untuk dapat menerima Al-Haq dan mengikuti perintah-perintah-Nya serta dapat mengikuti apa-apa yang telah dituntunkan oleh Rasulullah saw. dan para sahabatnya, para tabi’in, tabi’ut tabi’in dan orang-orang yang mengikuti jejak langkah mereka hingga hari kiamat.

Wallahu A'lam

Dari Berbagai Sumber.

SATRIA SEJATI
"Putera Islam"

Sunday, April 23, 2006

SYAIR: Generasi Yang Hilang

Generasi Yang Hilang

Teater Kanvas

Generasi yang hilang
Korban perang peradaban
Apa arti ilmu pengetahuan
Tanpa takwa dan iman

Dimeja makan dan mangkok supmu
Kuhidangkan kisah negeri terluka
Orang - orang berjamaah di mal-mal
Diskotik dan bar jadi rumah suci
Tuk tumpahkan duka dan sakit hati

Di sini aku berdiri
Di meja makan dan mangkok supmu
Menahan garpu - garpu keserakahanmu
Yang terus menghujam melahap hutan
Mengibarkan berjuta film kebinalan

Anak anak sekolah berangkat untuk tawuran
Berbekal poster Madona dan mimpi kura - kura ninja
Mereka susuri jalan - jalan masa depan
Penuh ancaman dan topeng - topeng kemunafikan

Sarjana - sarjana dengan toga dikepalanya
Berbaris bagai robot
Meninggalkan masyarakatnya
Mengejar mimpi televisi seolah tak akan mati

Dimeja makan dan mangkok supmu
Kuhidangkan kisah negeri terluka
Kisah generasi yang hilang
Korban perang peradaban

Tak kalah luka dari bosnia
Tak kalah perih dari palestina
Tak kalah luka dari bosnia
Tak kalah perih dari palestina

Karena yang kau temui hanya zombi – zombi
Makhluk - makhluk hidup tanpa probadi
Tanpa izah tanpa harga diri
Tanpa takwa dan iman

Salafiyyun dalam sorotan : Benarkah gerakan salafiyyah paling Ahlulsunnah ?

Salafiyyun dalam sorotan :
Benarkah gerakan salafiyyah paling Ahlulsunnah ?
Kontribusi dari Fauzan Al-anshori
Kamis, 12 Mei 2005

Sejak beberapa puluh tahun yang lalu, di tengah kaum Muslimin muncul sebuah gerakan yang menamakan dirinya salafiyah atau salafiyyun. Mereka menyatakan dirinya sebagai umat Islam yang paling ahlu sunnah wal jama’ah, paling firqah najiyah, paling salafus sholih dan paling thaifah manshurah. Siapa bergabung dengan mereka, mereka anggap kelompok ahlu sunnah wal jama’ah. Siapa tidak bergabung dengan mereka, mereka sebut sebagai ahlu bid’ah, ahlul ahwa’, hizbiyyah Khawarij, firqah dhalalah dan sebutan mengerikan lainnya. Sebenarnya apa gerakan salafiyyun itu? Bagaimana aqidah dan manhaj mereka menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah ‘ala fahmi Salafush Sholih? Betulkah yang bergabung dengan mereka termasuk ahlu sunnah, dan yang tidak bergabung termasuk hizbiyyah dan ahlu bid’ah?

Benarkah segala klaim dan tudingan mereka ?

Ada sebuah pertanyaan yang mengganjal dalam benak kita, manakala melihat kiprah gerakan salafiyyun di medan dakwah. Vonis-vonis keras kepada seorang atau kelompok Islam yang berada di luar arus mereka, dan pengkultusan kepada syuyukh (guru-guru) di kalangan mereka sehingga mereka tidak menerima bila syuyukh mereka dikritisi. Benarkah ini cerminan interaksi sosial ‘ala ahlus sunnah terhadap ahlul bid’ah? Ataukah ada sesuatu yang salah?

1. TA’ASHUB DAN TAQLID BUTA

Bila diperhatikan, sebenarnya sikap ini bukanlah sebuah kebetulan belaka. Sikap ini lahir dari sikap hizbiyyah mereka, yang mereka terima dari para syuyukh mereka sendiri. Betapa tidak, sejak awal belajar seorang muslim yang bergabung dengan kelompok ini sudah didoktrin untuk menerima suatu dogma: bahwa kebenaran itu mempunyai tanda-tanda pengenal dan menara penerang, yang berwujud ajaran yang diterima dari kelompok mereka!

Itulah yang diajarkan para syuyukh mereka. Adalah syaikh Ali Hasan Al Halabi Al Atsari – seorang syaikh panutan mereka yang mengakui dirinya syaikhu salafiyyin ketiga setelah syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani dan syaikh Muhammad Ibrahin Syaqrah – yang menyatakan ijma’ tentang kedudukan tiga syuyukh salafiyyun ini dengan mengatakan:

“Para ulama kami yang agung itu, mereka itulah bintang-bintang pemberi petunjuk dan meteor yang tinggi, barangsiapa berpegang teguh dengan mentaati mereka, mereka itulah yang selamat dan barangsiapa memusuhi mereka, maka dialah orang yang tersesat” (At Tahdziru Min Fitnati Takfir hal. 39)

Jika ini yang dikatakan oleh syaikh panutan mereka, lantas bagaimana dengan para pengikut mereka? Pernyataan ini perlu mendapat catatan yaitu:
Pertama: Ijma’ menurut para ulama adalah kesepakatan seluruh ulama mujtahidin setelah wafatnya Rosululloh –bukan para syuyukh salafiyyun– dalam suatu masa tertentu, atas suatu persoalan tertentu. Yang dimaksud dengan kesepakatan adalah tidak adanya pendapat yang menyelisihi meski dari seorang ulama pun. Bila ada seorang ulama yang menyelisihi, maka namanya bukan ijma’.

Kedua: Pernyataan bahwa siapa yang bergabung dengan syaikh fulan dan membelanya baik benar maupun salah berarti kelompok yang benar, dan siapa mengkritik (memusuhi?) dan tidak bergabung dengan syaikh fulan berarti kelompok yang salah dan sesat, hal itu merupakan sebuah hizbiyyah, ta’ashub buta dan taklid buta yang terlarang dan sama sekali bukan sikap ahlu sunnah.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan yang artinya: “Barangsiapa menjadikan seseorang selain Rosululloh, siapa mengikutinya dan sejalan dengannya, ia adalah seorang ahlu sunnah, dan siapa yang menyelisihinya berarti adalah ahlu bid’ah dan firqoh, sebagaimana terdapat pada kelompok ahlu kalam --dan juga salafiyyun hari ini-- dan kelompok lainnya, maka ia termasuk ahlu bid’ah, dholal (sesat) dan tafaruq (pemecah belah persatuan umat Islam).” (Majmu’u Fatawa 3/216).

Subhanallah, pernyataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah ini telah menyingkap dengan telak, siapa sebenarnya gerakan salafiyyun ini. Alhamdulillah, kita tak perlu bersusah payah, Syaikhul Islam sudah membongkarnya dengan sangat telak.

Imam Abdurrahman Ibnu Jauzi mengatakan: “Ketahuilah sesungguhnya mayoritas para ahlu bid’ah itu dalam hati mereka ada ta’dzim (mengagungkan, mengkultuskan) seseorang --syaikh, ustadz, kiyai, habib, dll-- mereka mengikuti perkataannya tanpa mentadaburi apa yang dikatakan, ini adalah sebuah kesesatan, karena melihat itu seharusnya kepada apa yang dikatakan, bukan kepada siapa yang mengatakan. Sebagaimana dikatakan oleh oleh Imam Ali kepada Harits bin Hauth. Harits mengatakan kepada Ali, “Apakah anda mengira bahwa kami mengira Thalhah dan Zubair berada di atas kebatilan?” Maka Ali menjawab, “Wahai Harits, engkau ini terkena talbis (kerancuan). Sesungguhnya kebenaran tidak diketahui dari orang-orangnya. Ketahuilah kebenaran, maka engkau akan mengetahui pengikut kebenaran.” (Talbisu Iblis hal.101).

Sesungguhnya gerakan salafiyyun telah mendapat peringatan, kritikan dan nasehat dari para ulama, berkenaan dengan penyelisihan-penyelisihan mereka secara jelas terhadap aqidah ahlu sunnah wal jama’ah. Namun mereka tetap berjalan dengan penyelewengan mereka, bahkan semakin keras dan menyerang kelompok-kelompok umat Islam di luar mereka.

2. SEKULERISME

Maka inilah yang terjadi bagaimana sebuah kelompok yang menamakan dirinya salafiyyun, pengikut salafus sholih, namun menganut paham sekulerisme. Ini pernyataan syaikh nomer kedua mereka syaikh Muhammad Ibrahim Syaqrah yang artinya: “Saya meyakini bahwa slogan, “berikan hak kaisar kepada kaisar dan hak Tuhan kepada Tuhan” adalah sebuah kalimat bijaksana yang sesuai dengan zaman kita ini.” (Hiya As Salafiyatu Nisbatan wa Aqidatan wa Manhajan hal. 172).

Ya, tentu saja sangat sesuai dengan gerakan salafiyyun, namun jelas sangat bertentangan dan tidak sesuai dengan Islam. Semua Ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah memahami bahwa Islam adalah Agama dan Negara. Islam tidak sekedar mengatur urusan ritual peribadatan semata, namun juga mengatur seluruh aspek kehidupan manusia. Dan semua Ulama juga telah bersepakat, bahwa sekulerisme merupakan sebuah paham kufur.

Tak heran bila gerakan salafiyyun ini gencar melarang berbicara urusan politik, tahkimu syari’ah, amar ma’ruf kepada penguasa, apalagi urusan Khilafah Islamiyyah. Menurut mereka orang-orang yang mengangkat tema-tema tahkimu syari’ah, amar makruf kepada penguasa atau Khilafah Islamiyyah adalah kelompok hizbiyyun, khawarij, Ahlu bid’ah, orang-orang yang haus kekuasaan, orang-orang yang tidak mempedulikan urusan dakwah tauhid. Padahal jelas, seluruh Ulama telah ijma’ bahwa amar makruf dan menegakkan khilafah merupakan sebuah kewajiban kifayah. Fardhu khifayah bila tidak tuntas menjadi fardhu ‘ain. Adapun tuduhan tidak mempedulikan dakwah tauhid dan haus kekuasaan, tentunya sebuah tuduhan yang harus dibuktikan dengan bukti-bukti nyata, jika tidak tentu sebuah tuduhan kosong.

Yang lebih mengherankan lagi, mereka menganggap pemerintahan sekuler sebagai pemerintahan Islam yang wajib ditaati oleh kaum Muslimin. Maka semua orang yang paham tauhid tentu akan tertawa, ketika melihat kekonyolan mereka menganggap pemerintahan Nushairiyyah Syiria, misalnya, sebagai pemerintahan Islam yang harus ditaati, dan mereka menghujat Mujahidin Syiria yang berjihad melawan pemerintah Nushairiyyah. Padahal semua orang yang paham tauhid tentu paham bahwa Ulama Islam telah ijma’ bahwa Nushairiyyah adalah sekte kafir. Ya, kelucuan-kelucuan lainnya yang timbul dalam urusan ini tak bisa dipisahkan dari prinsip sekulerisme yang dianut oleh syuyukh mereka ini.

3. MENIHILKAN JIHAD

Ta’thil (menihilkan) jihad, itulah salah satu (sifat gerakan) salafiyyun yang mendakwahkan dirinya sebagai kelompok paling Ahlu Sunnah, atau bahkan satu-satunya Ahlu Sunnah dan di luar kelompok mereka (adalah) ahlu bid’ah dan hizbiyyah semua. Padahal jelas, salah satu sifat utama Thaifah Manshurah adalah jihad fie sabilillah, berperang di jalan Allah Ta’ala untuk meninggikan kalimatullah. Bahkan asbabul wurud hadits tentang Thaifah Manshurah pun berasal dari adanya sebagian shahabat Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa salam yang menyatakan jihad sudah selesai.

Jihad merupakan sifat tak terlepaskan dari generasi salafu sholih, dan jihad akan senantiasa berlanjut sampai Umat Islam bertempur melawan Dajjal. Para Ulama juga telah ijma’ bahwa manakala musuh menduduki salah satu negeri Islam, jihad menjadi fardhu ‘ain. Negeri Islam pertama yang lepas ke tangan tentara salib adalah Andalus (Spanyol), tahun 1942 M, atau 510 tahun yang lalu. Sampai hari ini Andalus tetap menjadi negara nashrani, maka jihad membebaskannya fardhu ‘ain atas seluruh Umat Islam yang mampu. Bahkan negeri (Islam) Palestina yang hanya (berjarak) beberapa ratus kilometer dari pusat lahirnya gerakan salafiyyun, telah jatuh ke tangan Inggris sejak 1917 M, lalu ditegakkan negara Israel tahun 1948 M. Sampai saat ini, jihad untuk membebaskan Palestina belum tuntas, maka jihad untuk membebaskan Palestina menjadi fardhu ‘ain.

Namun begitu, simaklah fatwa syaikh Muhammad Ibrahim Syaqrah, yang tinggal hanya beberapa ratus kilometer dari bumi Palestina: “Silahkan anda meneliti ayat-ayat yang datang untuk melengkapi dan menjelaskan ayat yang memerintahkan untuk mempersiapkan kekuatan (yang dimaksud adalah QS. Al Anfal ayat ke: 60, pent.) maka anda akan mengetahui bahwa jihad yang paling utama hari ini -saat kita dalam kelemahan seperti sekarang ini- adalah menahan diri dari berjihad.” (Hiya As Salafiyatu Nisbatan wa Aqidatan wa Manhajan hal. 204).

Ya, itulah fatwa syaikh kedua gerakan salafiyyun. Maka mereka pun diam seribu bahasa, tidak peduli nasib kaum Muslimin Palestina yang setiap hari meregang nyawa di tangan peluru-peluru tentara zionis Israel. Mereka pun diam ketika dua juta Umat Islam Iraq meregang nyawa akibat embargo ekonomi (1991) dan invasi (2002) oleh tentara salibis Internasional dan didukung oleh negara-negara Arab antek AS. Bahkan mungkin anda akan terkejut membaca fatwa syaikh pertama mereka, fadhilatu syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani yang memfatwakan Umat Islam Palestina untuk berhijrah. Ya, silahkan berhijrah dari Palestina, tidak usah berjihad, serahkan saja bumi Palestina kepada Israel. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.

Barangkali syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani sedang tidak memegang buku aqidah salaf ketika memfatwakan begitu, sehingga lupa bahwa Al-Qur’an, As-Sunnah dan ijma’ salafu shalih telah menyatakan bahwa jihad akan tetap berlangsung sampai hari kiamat, sampai Umat Islam memerangi Dajjal. Barangkali saja, beliau lupa ada hadits mutawwatir tentang Thaifah Manshurah yang akan senantiasa berjihad sampai akhirnya mereka memerangi Dajjal.

Paling tidak, beliau masih meyakini adanya ‘idad. Jika begitu, masih lumayan. Tetapi fatwa beliau selanjutnya membuat kita bengong dan kaget. Ketika membicarakan ayat 60 surat Al-Anfal yang memerintahkan ‘idad beliau menyatakan: “Barangsiapa memperhatikan nash ini tentu ia akan menyatakan wajibnya menahan diri dari jihad (tidak berjihad), sampai i’dad mencapai taraf sempurna. Kadang bentuk i’dad adalah tidak beri’dad, karena tujuan i’dad memang untuk menakutkan musuh…” (Hiya As-Salafiyatu Nisbatan wa Aqidatan wa Manhajan, hal. 203).

Bentuk jihad adalah tidak jihad, bentuk i’dad adalah tidak i’dad, tidak ada jihad sampai i’dad mencapai taraf sempurna. Wahai Umat Islam Palestina, jangan berjihad melawan Israel sebelum kekuatan militer kalian menyamai militer Israel yang dibantu seluruh negara besar kafir semisal AS dan Inggris. Jangan berjihad melawan Israel sampai kalian memiliki tank, pesawat tempur, rudal-rudal dan bom nuklir sebanyak yang dimiliki Israel. Selama kekuaatan militer kalian tidak sama dengan kekuatan Israel, haram kalian untuk berjihad. Kewajiban kalian adalah i’dad, dan bentuk i’dad adalah tidak i’dad. Jadi?

Padahal menurut para ulama, i’dad dalam hal ini adalah i’dad menurut kemampuan (tafsir Ibnu Katsir 2/503). Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah juga menyatakan bahwa dalam perang defensif seperti manakala musuh menyerang negeri Umat Islam, saat itu Umat Islam tidak boleh mundur dari medan perang sekalipun musuh berkali-kali lipat dari jumlah Umat Islam. Musuh dihadapi, dengan kemampuan yang ada. (Fatawa al-Kubra 1/236).

Dan untuk umat Islam Afghanistan, fatwa itu maknanya: jangan berjihad melawan AS dan sekutunya selama kekuatan militer kalian tidak sama besar dengan kekuatan militer AS dan sekutunya. Jangan melawan serbuan AS, jika pasukan komando, tank, kapal selam, pesawat tempur, pesawat siluman, rudal, bom nuklir, kapal pembom, kapal induk, kapal perusak kalian belum sama banyak dan sama kuat dengan milik AS dan sekutunya. Jangan berjihad cukup i’dad saja. Tawaran manis bukan?Saudaraku…untuk kepentingan siapa Umat Islam diajak menyerah dengan takdir, berpangku tangan, tidak berusaha…bukankah ini menyerah kepada taqdir versi sekte sesat Jabariyah dan Jahmiyah…? Jika Allah menakdirkan AS mengganyang Afghanistan, bukankah itu takdir yang harus diterima dengan lapang dada? Jika memang sudah takdirnya Israel menjajah Palestina dan membantai Umat Islam, kenapa kita harus mempersoalkannya? Jika Allah menakdirkan Khilafah Islamiyyah jatuh akibat konspirasi musuh Islam Internasional, kenapa kita harus ribut? Bukankah dengan sekali kun fayakun, AS akan hengkang, Israel akan binasa dan khilafah tegak. Kenapa harus bersusah payah? Bukankah lebih baik duduk di bawah kipas angin di masjid, asyik membaca buku dan membicarakan kejelekan para da’i di luar kelompok kita?

Untuk kepentingan siapa syaikh mereka, syaikh Rabi’ Al-Madkhali mengarahkan meriam takfir (pengkafiran) kepada Sayid Quthb yang aktif mengkritik pemerintahan sekuler? Kemudian anda melihat mereka duduk berpangku tangan, menerima takdir, puas dengan aqidah Jahmiyyah-Jabbariyyah, demi keselamatan “aqidah salafiyah” mereka?Tentara salibis dan zionis membantai ratusan ribu bahkan jutaan Umat Islam, tentara sekuler menegakkan pemerintahan sekuler dan bahu membahu dengan tentara salibis-zionis untuk memadamkan cahaya Allah Ta’ala, lantas anda berpangku tangan demi keselamatan “aqidah salafiyyah” anda, agar tidak diusik oleh tentara salibis, zionis dan sekuleris? Anda ingin cahaya Islam menerangi persada dunia ini dengan tanpa membuat orang-orang yahudi, nashrani dan musyrikin memarahi dan membenci anda? Jika itu aqidah anda, silahkan saja. Namun bagi Umat Islam lain di luar kelompok anda, tentu takakan melupakan petuah Syaikhul Islam Ibnu Qayyim:

“Wahai orang-orang yang bermental banci, di mana anda dari jalan? Jalan di mana di atasnya: Adam kelelahan, Nuh meratap sedih, Al-Khalil dilempar ke dalam api, Ismail dibaringkan untuk disembelih, Yusuf dijual dengan harga murah dan dipenjara beberapa tahun, Zakaria digergaji, Yahya disembelih, Ayyub menderita sakit parah, tangisan Daud melebihi batas kewajaran, Isa berjalan kesusahan seorang diri dan Muhammad sholallahu ‘alaihi wa salam mengalami kemiskinan dan berbagai siksaan. Anda malah bersantai dengan kelalaian dan permainan?” (Al-Fawaid, hal. 56).

4. CUEK DENGAN NASIB UMAT ISLAM

Syaikh Muhammad Ibrahim Syaqrah menyatakan: “Termasuk fiqhul waqi’ (memahami realita yang ada) adalah engkau meninggalkan fiqhul waqi’ supaya fiqhul waqi’ menjadi sempurna dalam dirimu sehingga engkau menjadi orang yang paling tahu dan paham tentang fiqhul waqi’.” (Hiya As-Salafiyatu Nisbatan wa Aqidatan wa Manhajan hal. 148).

Tak usah membaca koran, majalah, mendengar radio, melihat TV. Tak usah peduli dengan segala apa yang terjadi dengan dunia sekitar anda. Tak usah peduli dengan nasib ratusan juta Umat Islam di seluruh dunia, biarkan saja mereka, nanti anda akan menjadi orang yang paling paham dengan kondisi mereka. Diamnya anda, kesibukan anda dengan tarbiyyah dan tashfiyyah, kecuekan anda dengan jahiliyyah modern hari ini, akan menjadikan anda orang yang paling paham dengan kondisi dunia modern. Anda cuek dan diam, sibuk dengan urusan anda, maka anda akan menjadi orang yang paling pintar, mengalahkan semua pengamat. Untuk pandai dan paham tentang dunia sekitar, tak perlu belajar dan mencari tahu, cukup tashfiyyah dan tarbiyyah, kun fayakun anda jadi orang paling pintar.

Sebuah prinsip yang sangat bagus dan menggiurkan. Ukhuwah Imaniyyah yang menuntut kita memperhatikan nasib seluruh saudara kaum Muslim di dunia, bisa dirontokkan dengan dua baris kalimat sakti syaikh salafiyyah. Bila demikian keadaannya, maka hendaklah kita mencamkan wasiat Shahabat Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu: “Ikatan Islam akan lepas satu persatu bila di kalangan Umat Islam timbul sebuah generasi yang tidak paham dengan jahiliyyah” (Ibnul Qayyim, Al-Fawaid, hal. 143).

Tidak paham konspirasi salibis-zionis-musyrikin, tidak paham kondisi saudara-saudara Muslim di berbagai belahan dunia yang sedang kesulitan, tidak paham sekulerisme, Khawarij, Murjiah, Jabariyyah, Jahmiyyah, bahkan tidak paham ahlus sunnah wal Jama’ah. Ya sudah, hancurlah Islam. Lepaslah ikatan Islam.

Inilah gambaran sekilas latar belakang pemikiran gerakan sesat Murji’ah ekstrim, yang hari ini dengan bangga menggelari dirinya sebagai gerakan salafiyyah. Mereka menganggap penyelewengan mereka dari aqidah ahlu sunnah wal jama’ah sebuah perkara remeh, padahal di sisi Allah Ta’ala sebuah perkara besar.

Tulisan super singkat ini belum membahas banyak hal tentang aqidah dan manhaj gerakan salafiyyah. Insya Allah, di lain kesempatan berbagai masalah yang berkaitan dengan gerakan ini akan disorot. Yang jelas, kemungkinan besar akan ada pihak-pihak yang merasa keberatan dan tidak terima dengan tulisan ini.
Maka kepada saudara Muslim siapa pun dirinya kami nasehatkan beberapa hal berikut ini:
  1. Mengembalikan seluruh perselisihan kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah sesuai pemahaman salafu sholih.
  2. Tidak ta’ashub buta dan taqlid buta kepada siapa pun, seberapa pun kebesaran jasanya dan ketinggian ilmunya, karena tidak ada yang ma’shum selain Rasulullah shalallahu ’alaihi wa salam.

Wallahu ‘alam bish shawab.

Saturday, April 22, 2006

SYAIR: Kamilah para pembai’at Muhammad

Kamilah para pembai’at Muhammad
Dengan darah nanti aku tuliskan kisah jihadku
Dan kejujuranku sebagai bekal perjuanganku

Mentari telah kembali
Dan medanku telah dipenuhi oleh musuh

Dan sekelompok para pejuang
Memikul arwah mereka dipundak mereka

Kamilah para pembai’at Muhammad
Atas jihad yang takkan kami tinggalkan selamanya

Aku bersumpah wahai jiwa turunlah
Bertempurlah atau kau akan dihinakan

Mengapa kulihat kau membenci surga?
Mengapa kulihat kau membenci surga?

Biar semua orang pergi meninggalkannya
Biar semua orang pergi meninggalkannya

Kamilah para pembai’at Muhammad
Atas jihad yang takkan kami tinggalkan selamanya ...

KELUHANKU: Perang Terhadap Islam

Perang Terhadap Islam
Kepada seluruh anak adam di bumi ... Kepada saudara muslimku yang masih terlena dengan gemerlapnya dunia ... Kepada semuanya ... Tua dan muda ... Kecil dan dewasa ... Laki-laki dan wanita ...

Aku ceritakan tubuh para korban ini .... Aku ceritakan tangis anak-anak yatim ... Dan jeritan para janda ... Serta isakan wanita tua ...

Aku ceritakan ... Reruntuhan ... Rumah-rumah yang dihancurkan ... Keluarga yang berantakan ... Dan menara-menara yang ditumbangkan ... Dan bangunan-bangunan yang diratakan dengan tanah ...

Nikmatilah dan bayangkanlah ...Serta kenalilah ...

Sesungguhnya …mereka adalah kaum yang tak berdosa ... Sesungguhnya…mereka adalah kaum muslimin ... Sesungguhnya mereka adalah kaum muslimin.

Dari mana aku akan memulai? Dan ke mana?

Sedangkan di sini aku melihat tubuh Islam yang terbungkus dan terikat. Manakah lukanya yang paling parah, manakah pendarahannya yang paling deras, manakah di antara semua itu yang paling mengerikan, agar aku bahas dulu, sebelum yang lain?

Pada mulanya, wahai kawan-kawanku semuanya, sejak sekitar 5 tahun ini, hatiku sungguh terkoyak menyaksikan derita yang di alami umat manusia. Aku menangis menyaksikan kematian demi kematian, kezaliman demi kezaliman, dan kelaparan demi kelaparan yang terjadi akibat tindakan semena-mena para tiran. Dan pecahlah kemarahanku, ketika mengetahui bahwa semua tindak semena-mena ini bukan saja di akibatkan oleh sifat lalim para tirani, tapi karena sikap masa bodoh orang-orang yang dizalimi juga.

Kemudian, beberapa tahun berlalu, ketika itu aku menyadari bahwa memikul duka seluruh manusia merupakan hal yang diluar kemampuanku. Maka, aku mulai memfokuskan perhatian pada Dunia Islam. Namun, amat cepat air mata itu berubah menjadi darah yang mengalir deras, ketika melihat Dunia Islam dengan suka rela tunduk patuh kepada pihak-pihak yang bermaksud jahat dan menyakitinya. Aku belum tahu, akankah zaman terus bergulir, sampai suatu saat tiba masanya aku berada dalam posisi mereka yang kini ku tangisi?

Bukan main kemarahanku terhadap negara-negara Islam itu, lantas aku fokuskan lagi perhatianku kepada Dunia Arab. Aku pun tercengang menyaksikan kefasikan kaum elit di Dunia Arab ini. Akhirnya, aku fokuskan lagi perhatianku kepada negaraku, sekonyong-konyong aku di kejutkan oleh orang-orang yang berbondong-bondong keluar dari agama Allah, sebagaimana dulu mereka memasukinya secara berbondong-bondong. Akhirnya, aku fokuskan perhatian kepada diriku sendiri.

Diriku, diriku, diriku!

Tapi, bagaimana mungkin aku bisa menyelamatkan diri pada Hari Hisab yang dahsyat kelak, ketika Tuhan bertanya: “Apa yang telah kau lakukan untuk bangsamu, negaramu, Dunia Arabmu, Umat Islam, dan untuk manusia secara keseluruhan? Apa yang telah kau lakukan dengan status kekhalifahan yang telah Kusematkan pada dirimu selama di dunia?”

Perputaran telah sempurna ...

Kembalilah keadaan seperti semula. Aku baru mulai memahami makna yang sesungguhnya, setelah aku menyadari bahwa Islam itulah negaraku. Hanya Islam, bukan garis-garis perbatasan yang di buat oleh kaum Salibis dipeta-peta geografi, agar kita bisa membagi-bagi negara kita, Islam, bahkan mencabik-cabiknya kecil-kecil.

Makna universal yang mencakup dan lengkap itu: “Siapa yang tidak memperhatikan urusan kaum Muslimin, maka ia bukan dari golongan mereka.”

Ditengah gelombang duka citaku kepada umat yang menganut prinsip “Tiada sembahan yang benar selain Allah dan Muhammad Utusan Allah” ini, aku dikejutkan oleh suatu pertanyaan: “Apakah setan itu beriman?!”

Setan sama sekali tidak mengingkari eksistensi Allah. Setan tidak akan pernah mengingkari bahwa Allah Subhanu wa Ta’ala adalah Al-Khaliqu ‘l-Wahidu ‘l-Ahad (Dzat Satu-satunya yang Mencipta), persis seperti kebanyakan dari kita. Bahkan, mungkin keyakinannya lebih besar, karena ia telah melihat apa yang tidak pernah kita lihat dan mendengar apa yang tidak pernah kita dengar. Namun, iman dan Islam bukan sekadar pengakuan semacam itu. Ya, bukan itu. Iman tidak bisa terwujud kecuali dengan keimanan kepada Rububiyah, Uluhiyah, serta asma’ dan shifat Allah, secara lengkap. Setan sama seperti kita dalam hal keimanan kepada rububiyah Allah, tetapi ia menolak –sebagaimana kaum modernis sekuler- untuk mengimani bahwa Rabb tersebut juga merupakan Ilah yang harus diibadahi. Iman kita tidak berlaku jika kita tidak beriman kepada Allah dan menjadikan-Nya sebagai ma’bud, (artinya kita beribadah kepada-Nya sesuai dengan perintah-perintah-Nya dalam Al-Qur’an), serta memahasucikan nama-nama dan sifat-sifat-Nya.

Namun, betapa terkejutnya aku, wahai kawan-kawan semua, bahwa orang-orang yang mempercayai rububiyah Allah, tapi tidak mempercayai uluhiyah-Nya inilah yang saat ini berwenang menetapkan mana yang boleh dan mana yang tidak boleh, berdasarkan Tatanan Dunia Baru, bukan berdasarkan halal haram.

Kemarahanku semakin memuncak dan dada pun semakin terasa sempit, ketika salah seorang dari mereka berkata sebagai penyambung lidah kawanannya, menyatakan sebuah kalimat benar yang dimaksudkan untuk tujuan batil: Bahwa orang Muslim adalah orang yang seluruh Muslim lain selamat dari gangguan lidah dan tangannya. Setan yang hanya mempercayai Allah sebagai Rabb itu, tidak memiliki maksud selain mencampakkan Islam yang telah di ridhai oleh Allah sebagai agama kita. Maka, shalat, zakat, jihad, syariat ini… atau itu…, serta semua perintah yang diturunkan oleh Allah kepada kita dengan segala subtansi dan indikasinya, sudah tidak ada urgensinya sama sekali.

Kemudian, seberkas cahaya menerangiku. Akhirnya aku sadar, mengapa selama ini kita selalu beralih dari satu kekalahan kepada kekalahan lain, dari satu bencana kepada bencana lain yang lebih parah, dari satu kehinaan kepada kehinaan lain yang lebih besar.. sehingga menjadi umat yang keadaannya ibarat buih di atas air. Sebab, dengan adanya manusia-manusia seperti mereka, mustahil keadaan kita akan membaik.

Sungguh, bukan main terkejutnya aku, ketika mengetahui bahwa satu cara brilian –brilian menurut setan- yang telah dipraktikkan oleh Amerika Serikat dalam memerangi Afghanistan, bisa langsung diterapkan di seluruh ruas –aku tidak katakan di setiap negeri- Dunia Islam.

Satu kekuatan yang terdiri dari pesawat-pesawat B52 dan 15.000 bonekanya dari Aliansi Utara telah mengalahkan sebuah bangsa yang paling banyak berjihad dibandingkan bangsa-bangsa kita yang manapun. Lima belas ribu?.. Tapi , anggota-anggota Partai Aliansi Utara di setiap ruas Dunia Islam kita lebih banyak dari itu.

Wahai kawan-kawan semua! Tulisan ini ditulis, karena telah dilancarkannya “Perang Salib Baru”, sementara salib di sini hanyalah sebuah kedok persembunyian bagi setan yang berada di belakangnya. Duka demi duka datang bertubi-tubi, seakan-akan sahut-menyahut dengan duka-duka lain yang terjadi hampir berbarengan. Hilangnya Palestina 1956, pelajaran tahun ’67 yang belum selesai, kekalahan telak tahun ’73, kemenangan militer yang disertai kekalahan politik tahun ’77, kunjungan Sadat ke Al-Quds tahun ’82, Perang Lebanon, Perang Teluk Pertama dan Kedua, Kosovo, Bosnia-Herzegovina, Khasmir, Filipina, Burma, Ambon, Poso, Xin Jiang, Afghanistan, …, …, … dan Irak. Seakan-akan, sejarah kita hanya berisi luka menganga, seakan-akan semua luka adalah umat Islam dan semua umat Islam adalah luka.

Akhirnya, aku mengerti, sadar, tahu, dan paham, kaget serta tersentak. Ternyata, ini bukan perang terhadap Palestina, Irak, atau Afghanistan. Ini juga bukan perang terhadap Usamah bin Ladin atau terhadap Taliban. Tapi, ini perang terhadap Islam.

Itulah perang yang sekian lama kita diingatkan. Sekian lama para syaikh dan ulama kita mengingatkan kita, akan tetapi kelompok menyimpang yang pikirannya kebarat-baratan di negeri-negeri kita, kelompok pengkhianat, sejenis Aliansi Utara, melawan peringatan ini dengan peringatan pula, ditambah dengan kebohongan.

Inilah peperangan yang dilancarkan oleh “hamba-hamba setan” terhadap “hamba-hamba Ar-Rahman”.

Ya.. Ini perang terhadap Islam..