Perang Terhadap Islam
Kepada seluruh anak adam di bumi ... Kepada saudara muslimku yang masih terlena dengan gemerlapnya dunia ... Kepada semuanya ... Tua dan muda ... Kecil dan dewasa ... Laki-laki dan wanita ...
Aku ceritakan tubuh para korban ini .... Aku ceritakan tangis anak-anak yatim ... Dan jeritan para janda ... Serta isakan wanita tua ...
Aku ceritakan ... Reruntuhan ... Rumah-rumah yang dihancurkan ... Keluarga yang berantakan ... Dan menara-menara yang ditumbangkan ... Dan bangunan-bangunan yang diratakan dengan tanah ...
Nikmatilah dan bayangkanlah ...Serta kenalilah ...
Sesungguhnya …mereka adalah kaum yang tak berdosa ... Sesungguhnya…mereka adalah kaum muslimin ... Sesungguhnya mereka adalah kaum muslimin.
Dari mana aku akan memulai? Dan ke mana?
Aku ceritakan tubuh para korban ini .... Aku ceritakan tangis anak-anak yatim ... Dan jeritan para janda ... Serta isakan wanita tua ...
Aku ceritakan ... Reruntuhan ... Rumah-rumah yang dihancurkan ... Keluarga yang berantakan ... Dan menara-menara yang ditumbangkan ... Dan bangunan-bangunan yang diratakan dengan tanah ...
Nikmatilah dan bayangkanlah ...Serta kenalilah ...
Sesungguhnya …mereka adalah kaum yang tak berdosa ... Sesungguhnya…mereka adalah kaum muslimin ... Sesungguhnya mereka adalah kaum muslimin.
Dari mana aku akan memulai? Dan ke mana?
Sedangkan di sini aku melihat tubuh Islam yang terbungkus dan terikat. Manakah lukanya yang paling parah, manakah pendarahannya yang paling deras, manakah di antara semua itu yang paling mengerikan, agar aku bahas dulu, sebelum yang lain?
Pada mulanya, wahai kawan-kawanku semuanya, sejak sekitar 5 tahun ini, hatiku sungguh terkoyak menyaksikan derita yang di alami umat manusia. Aku menangis menyaksikan kematian demi kematian, kezaliman demi kezaliman, dan kelaparan demi kelaparan yang terjadi akibat tindakan semena-mena para tiran. Dan pecahlah kemarahanku, ketika mengetahui bahwa semua tindak semena-mena ini bukan saja di akibatkan oleh sifat lalim para tirani, tapi karena sikap masa bodoh orang-orang yang dizalimi juga.
Kemudian, beberapa tahun berlalu, ketika itu aku menyadari bahwa memikul duka seluruh manusia merupakan hal yang diluar kemampuanku. Maka, aku mulai memfokuskan perhatian pada Dunia Islam. Namun, amat cepat air mata itu berubah menjadi darah yang mengalir deras, ketika melihat Dunia Islam dengan suka rela tunduk patuh kepada pihak-pihak yang bermaksud jahat dan menyakitinya. Aku belum tahu, akankah zaman terus bergulir, sampai suatu saat tiba masanya aku berada dalam posisi mereka yang kini ku tangisi?
Bukan main kemarahanku terhadap negara-negara Islam itu, lantas aku fokuskan lagi perhatianku kepada Dunia Arab. Aku pun tercengang menyaksikan kefasikan kaum elit di Dunia Arab ini. Akhirnya, aku fokuskan lagi perhatianku kepada negaraku, sekonyong-konyong aku di kejutkan oleh orang-orang yang berbondong-bondong keluar dari agama Allah, sebagaimana dulu mereka memasukinya secara berbondong-bondong. Akhirnya, aku fokuskan perhatian kepada diriku sendiri.
Diriku, diriku, diriku!
Tapi, bagaimana mungkin aku bisa menyelamatkan diri pada Hari Hisab yang dahsyat kelak, ketika Tuhan bertanya: “Apa yang telah kau lakukan untuk bangsamu, negaramu, Dunia Arabmu, Umat Islam, dan untuk manusia secara keseluruhan? Apa yang telah kau lakukan dengan status kekhalifahan yang telah Kusematkan pada dirimu selama di dunia?”
Perputaran telah sempurna ...
Kembalilah keadaan seperti semula. Aku baru mulai memahami makna yang sesungguhnya, setelah aku menyadari bahwa Islam itulah negaraku. Hanya Islam, bukan garis-garis perbatasan yang di buat oleh kaum Salibis dipeta-peta geografi, agar kita bisa membagi-bagi negara kita, Islam, bahkan mencabik-cabiknya kecil-kecil.
Makna universal yang mencakup dan lengkap itu: “Siapa yang tidak memperhatikan urusan kaum Muslimin, maka ia bukan dari golongan mereka.”
Ditengah gelombang duka citaku kepada umat yang menganut prinsip “Tiada sembahan yang benar selain Allah dan Muhammad Utusan Allah” ini, aku dikejutkan oleh suatu pertanyaan: “Apakah setan itu beriman?!”
Setan sama sekali tidak mengingkari eksistensi Allah. Setan tidak akan pernah mengingkari bahwa Allah Subhanu wa Ta’ala adalah Al-Khaliqu ‘l-Wahidu ‘l-Ahad (Dzat Satu-satunya yang Mencipta), persis seperti kebanyakan dari kita. Bahkan, mungkin keyakinannya lebih besar, karena ia telah melihat apa yang tidak pernah kita lihat dan mendengar apa yang tidak pernah kita dengar. Namun, iman dan Islam bukan sekadar pengakuan semacam itu. Ya, bukan itu. Iman tidak bisa terwujud kecuali dengan keimanan kepada Rububiyah, Uluhiyah, serta asma’ dan shifat Allah, secara lengkap. Setan sama seperti kita dalam hal keimanan kepada rububiyah Allah, tetapi ia menolak –sebagaimana kaum modernis sekuler- untuk mengimani bahwa Rabb tersebut juga merupakan Ilah yang harus diibadahi. Iman kita tidak berlaku jika kita tidak beriman kepada Allah dan menjadikan-Nya sebagai ma’bud, (artinya kita beribadah kepada-Nya sesuai dengan perintah-perintah-Nya dalam Al-Qur’an), serta memahasucikan nama-nama dan sifat-sifat-Nya.
Namun, betapa terkejutnya aku, wahai kawan-kawan semua, bahwa orang-orang yang mempercayai rububiyah Allah, tapi tidak mempercayai uluhiyah-Nya inilah yang saat ini berwenang menetapkan mana yang boleh dan mana yang tidak boleh, berdasarkan Tatanan Dunia Baru, bukan berdasarkan halal haram.
Kemarahanku semakin memuncak dan dada pun semakin terasa sempit, ketika salah seorang dari mereka berkata sebagai penyambung lidah kawanannya, menyatakan sebuah kalimat benar yang dimaksudkan untuk tujuan batil: Bahwa orang Muslim adalah orang yang seluruh Muslim lain selamat dari gangguan lidah dan tangannya. Setan yang hanya mempercayai Allah sebagai Rabb itu, tidak memiliki maksud selain mencampakkan Islam yang telah di ridhai oleh Allah sebagai agama kita. Maka, shalat, zakat, jihad, syariat ini… atau itu…, serta semua perintah yang diturunkan oleh Allah kepada kita dengan segala subtansi dan indikasinya, sudah tidak ada urgensinya sama sekali.
Kemudian, seberkas cahaya menerangiku. Akhirnya aku sadar, mengapa selama ini kita selalu beralih dari satu kekalahan kepada kekalahan lain, dari satu bencana kepada bencana lain yang lebih parah, dari satu kehinaan kepada kehinaan lain yang lebih besar.. sehingga menjadi umat yang keadaannya ibarat buih di atas air. Sebab, dengan adanya manusia-manusia seperti mereka, mustahil keadaan kita akan membaik.
Sungguh, bukan main terkejutnya aku, ketika mengetahui bahwa satu cara brilian –brilian menurut setan- yang telah dipraktikkan oleh Amerika Serikat dalam memerangi Afghanistan, bisa langsung diterapkan di seluruh ruas –aku tidak katakan di setiap negeri- Dunia Islam.
Satu kekuatan yang terdiri dari pesawat-pesawat B52 dan 15.000 bonekanya dari Aliansi Utara telah mengalahkan sebuah bangsa yang paling banyak berjihad dibandingkan bangsa-bangsa kita yang manapun. Lima belas ribu?.. Tapi , anggota-anggota Partai Aliansi Utara di setiap ruas Dunia Islam kita lebih banyak dari itu.
Wahai kawan-kawan semua! Tulisan ini ditulis, karena telah dilancarkannya “Perang Salib Baru”, sementara salib di sini hanyalah sebuah kedok persembunyian bagi setan yang berada di belakangnya. Duka demi duka datang bertubi-tubi, seakan-akan sahut-menyahut dengan duka-duka lain yang terjadi hampir berbarengan. Hilangnya Palestina 1956, pelajaran tahun ’67 yang belum selesai, kekalahan telak tahun ’73, kemenangan militer yang disertai kekalahan politik tahun ’77, kunjungan Sadat ke Al-Quds tahun ’82, Perang Lebanon, Perang Teluk Pertama dan Kedua, Kosovo, Bosnia-Herzegovina, Khasmir, Filipina, Burma, Ambon, Poso, Xin Jiang, Afghanistan, …, …, … dan Irak. Seakan-akan, sejarah kita hanya berisi luka menganga, seakan-akan semua luka adalah umat Islam dan semua umat Islam adalah luka.
Akhirnya, aku mengerti, sadar, tahu, dan paham, kaget serta tersentak. Ternyata, ini bukan perang terhadap Palestina, Irak, atau Afghanistan. Ini juga bukan perang terhadap Usamah bin Ladin atau terhadap Taliban. Tapi, ini perang terhadap Islam.
Itulah perang yang sekian lama kita diingatkan. Sekian lama para syaikh dan ulama kita mengingatkan kita, akan tetapi kelompok menyimpang yang pikirannya kebarat-baratan di negeri-negeri kita, kelompok pengkhianat, sejenis Aliansi Utara, melawan peringatan ini dengan peringatan pula, ditambah dengan kebohongan.
Inilah peperangan yang dilancarkan oleh “hamba-hamba setan” terhadap “hamba-hamba Ar-Rahman”.
Ya.. Ini perang terhadap Islam..
1 comment:
ya... mmg begitu menyakitkan sejarah umat islam.. penuh dengan korban, derita serta nyawa!!! luka yg mereka rasakan dalah luka dan derita kita bersama,pahitnya begitu mengenang hingga ke anak cucu nanti.... kita adalah satu darah, satu tubuh dalam Islam, semua hanya demi Islam.. ALLAHU AKBAR ALLAHU AKBAR....!!!!
Post a Comment