Tuesday, April 25, 2006

NASEHAT: SALAFUSH-SHALIH (Upaya Menyatukan Persepsi Ummat)

SALAFUSH-SHALIH
(Upaya Menyatukan Persepsi Ummat)

Empat belas abad yang lalu, dunia ini digemparkan oleh munculnya sebuah ajaran yang sangat unik dan asing bagi masyarakat yang hidup pada masa itu. Sebuah ajaran yang bermuara dari wahyu, datang untuk menuntun umat manusia dari gelapnya alam jahiliyyah menuju terangnya lentera iman, sebuah ajaran yang mengentaskan bani Adam dari penghambaan kepada manusia kepada penghambaan kepada Allah Dzat Pencipta manusia, sebauh ajaran yang mengeluarkan mereka dari sempitnya dunia menuju luasnya akhirat.

Islam… inilah nama ajaran yang unik itu.

Islam… inilah nama ajaran yang asing itu.

Memang Islam datang untuk melipat peradaban jahilyyah dan semua watak plus karakter yang dimilikinya, lalu menggelar peradaban ilahi yang sarat dengan nilai-nilai akidah, akhlak, moral dan spritual, serta menuntun manusia dalam menapaki fitrahnya yang suci dan membebaskan mereka dari jerat-jerat syetan dan kerikil-kerikil kemusyrikan yang senantiasa menjadi perintang dihadapannya.

Meskipun munculnya Islam pada saat itu sangat terasa asing, namun cahaya kebenaran yang dibawa Islam mampu mencairkan bekunya hati para penyembah berhala pada masa itu, dan berhasil menghancurkan kerasnya tradisi jahliyyah yang sudah melekat dan mendarah daging dikalangan mayoritas penduduk Jazirah Arabia dikala itu. Ibarat orang yang sedang kehausan di tengah gurun pasir lalu mendapatkan air, mereka berbondong-bondong baik secara individu ataupun secara berkelompok untuk memproklamirkan diri mereka mengikrarkan dua kalimat syahadat Asyahadu anla ilaha illallah wa asyahadu anna muhammad rasulullah, masuk ke dalam Dien Islam.

Jika telah datang pertolongan Allah dan kemenangan. Dan engkau lihat manusia masuk kedalam Dienullah dengan berbondong-bondong. Maka bertasbihlah dengan memuji Rabb-mu dan beristighfarlah kepada-Nya, sesungguhnya Dia Maha Penerima taubat.” (QS. An-Nashr: 1-3)

Sehingga tidaklah mengherankan kalau dalam rentang waktu yang relatif singkat, cahaya Islam sudah menerangi seluruh semenanjung Arabia mulai dari Hijaz, Najd sampai pada Yaman dan Oman, bahkan dalam beberapa dasa warsa kemudian Islam telah melebarkan sayapnya dengan mengayomi sekitar duapertiga belahan dunia.

Hal ini membuktikan betapa tepatnya nubuwat Rasulullah saw.: “Dari Tsauban bahwasanya Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya Allah telah melipat bumi ini untukku, sehingga aku dapat melihat belahan timur dan baratnya. Dan kekuasaan ummatku akan mencapai apa yang telah diperlihatkan kepadaku, dan aku telah diberi dua buah istana Romawi dan Persia.” (HR. Muslim).

Namun seiring dengan meluasnya kekuasan Islam dan banyaknya negeri-negeri yang dulunya dibawah kekuasaan dua super power dunia saat itu kini menjadi bagian dari wilayah Khilafah Islamiyah, timbullah problematika baru yang mengancam keutuhan Islam, khususnya yang berkenaan dengan akidah, ibadah dan pemahaman Dien Islam itu sendiri.

Hal ini disebabkan karena sebagian dari penduduk negeri-negeri Islam yang baru tersebut dalam mempelajari dan mengamalkan Islam masih terpengaruh, tercemari dan tercampur dengan ajaran-ajaran nenek moyang mereka yang notabene merupakan ajaran jahiliyyah yang sama sekali bertentangan dengan Islam. Ditambah lagi dengan adanya upaya dari beberapa Khalifah Abbasiyah –yang mencapai puncaknya pada masa Al-Ma’mun- yang memerintahkan untuk menterjemahkan buku-buku filsafat Yunani dan Romawi kuno karya Aristoteles, Socrates dan lain-lain ke dalam bahasa Arab. Ini semua sangat mempengaruhi kemurnian visi dan pemahaman akan akidah Islam yang benar.

Maka timbullah berbagai firqah yang berbaju Islam, tetapi menyimpang dari ajaran Islam yang benar. Seperti firqah Khawarij yang mengkafirkan seorang muslim yang melakukan dosa besar. Firqah ini lahir setelah timbulnya pertikaian antara Ali dan Muawiyah tahun 37 H. Lalu muncullah firqah Syi’ah yang mengkultuskan Ali dan mengkafirkan sebagian besar sahabat Rasulullah saw.. Disusul munculnya paham Qadariyah yang dibawa Ma’bad Al-Juhany tahun 80 H. Kemudian paham Murji’ah yang dibawa oleh Ghalayan Ad-Dimasqy tahun 105 H. Dan Mu’tazilah serta Jahmiyah yang masing-masing dipelopori oleh Washil bin ‘Atho (130 H) dan Jahm bin Shofwan (128 H) dimana kedua kelompok ini mengingkari seluruh sifat-sifat yang dimiliki Allah Ta’ala.

Ini semua adalah sebagian dari 72 firqah yang menyimpang dari madzhab Ahli Sunnah wal Jama’ah dalam memahami Dien, sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah saw.: “Dan ummatku akan terpecah menjadi 73 golongan semuanya masuk Neraka kecuali hanya satu.” Para sahabat bertanya: “Siapakah golongan yang satu itu wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Mereka orang-orang yang mengikuti jalanku dan jalan para sahabatku.” (HR. Tirmidzi dan dihasankan oleh Syeikh M. Nashiruddin Al-Albani).

Ironisnya, semua firqah yang ada dan tersebar dinegeri-negeri Islam, mereka mengaku bahwa mereka adalah bermadzhab Ahlu Sunnah wal Jama’ah, sebagai Firqah Najiyah atau Thaifah Al-Manshurah, padahal golongan yang selamat yang disinyalir oleh Rasulullah saw. dalam hadits di atas hanya satu jumlahnya, tidak berbilang, yaitu golongan yang berprinsip maa ana alaihi wa ash’haabii (Mereka orang-orang yang memahami dan mengamalkan Islam seperti aku dan para sahabatku amalkan).

Ini berarti kalau kita ingin termasuk golongan Ahlu Sunnah wal Jama’ah yang hakiki, hendaklah kita dalam memahami Dien kita merujuk kepada Al-Qur’an, As-Sunnah, perkataan para sahabat, Tabi’in, Tabi’ut Tabi’in serta para imam yang mendapat petunjuk dan terpercaya.

Inilah yang dinamakan manhaj Salafus Shalih, satu-satunya manhaj yang benar yang wajib kita ikuti, kita teladani dan kita jadikan rujukan dalam mempelajari, mengajarkan, mengamalkan dan memperjuangkan dien Islam ini.

Mungkin diantara kita ada yang bertanya: “Mengapa kita harus berpegang teguh kepada manhaj salaf, apakah tidak ada manhaj lain yang dapat membimbing kita kearah pemahaman Islam yang benar selain manhaj salaf?”

Maka dengan tegas jawabannya tidak ada, karena hanya salaflah satu-satunya manhaj yang benar dalam memahami Islam yang berdiri di atas landasan Al-Qur’an, As-Sunnah, pendapat serta ijma’ para sahabat serta Tabi’in dan Tabi’ut Tabi’in.

Disamping itu, kelurusan, keutuhan, kesempurnaan dan kebenaran manhaj salaf dalam memahami Dien Islam tidak perlu diragukan lagi, karena mereka para salafus-shalih telah mendapat tazkiyah (rekomendasi) langsung dari Allah dan Rasul-Nya. Oleh Allah swt. mereka diberi gelar “Khairu Ummah” sedang oleh Rasulullah saw. mereka dijuluki Khairu’n-Naas dan Khairul-Qurun.

“Kalian adalah ummat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, memerintahkan pada yang ma’ruf dan mencegah dari hal-hal yang mungkar dan beriman kepada Allah.” (QS. Ali-Imran: 110).

“Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian generasi sesudah mereka, kemudian generasi sesudah mereka.” Dan dalam riwayat lain disebutkan sebaik-sebaik generasi. (HR. Ahmad, Bukhari dan Muslim).

Itulah sebabnya Abdullah bin Mas’ud ra. ketika menasehati para sahabatnya beliau berkata: “Barangsiapa yang ingin menjadikan seseorang sebagai teladan hendaklah ia mengambil para sahabat Rasulullah saw. sebagai teladannya, karena mereka itulah orang-orang yang paling baik hatinya, paling banyak ilmunya, paling sedikit basa-basinya, paling lurus petunjuknya dan paling baik keadaanya. Mereka adalah suatu kaum yang dipilih Allah untuk mendampingi Nabi-Nya dalam menegakkan Dien-Nya. Maka akuilah keutamaan mereka dan ikutilah jejak langkah mereka karena sesungguhnya mereka berada di atas petunjuk yang lurus.” (Al-Jami’ Fi Bayanil Ilmi Wa Fadhlihi, Ibnu Abdil barr).

Demikian pula imam Al-Auza’i dalam sebuah nasehatnya beliau berkata: “Hendaklah kamu berpegang teguh kepada atsar yang bersumber dari salaf meskipun banyak orang menentangmu dan jauhilah olehmu pendapat orang-orang selain mereka meskipun mereka mengemas perkataan-perkataannya dengan indah dan menarik.”

Kalau para ulama terdahulu yang hidup pada kurun tiga abad pertama Hijriyah menasehati murid-muridnya untuk tidak mengikuti sembarang pendapat dan perkataan, padahal kemurnian pemahaman mereka tentang Dien relatif jauh lebih baik dari keadaan kita sekarang, maka kita orang yang hidup setelah mereka mestinya lebih utama lagi untuk merujuk kepada salafus shalih agar pemahaman kita tentang Islam lurus sama seperti pemahaman mereka.

Mengapa kita harus bersikap demikian?

Untuk menjawab pertanyaan ini alangkah baiknya kalau kita menyimak sabda Rasulullah saw.: “Tidaklah kalian melewati satu tahun bahkan satu haripun kecuali masa yang sesudahnya lebih buruk dari masa yang sebelumnya sehingga kalian menjumpai Rabb kalian.” (HR. Ahmad dan Bukhari).

Logikanya, semakin jauh jarak kehidupan umat Islam dari jaman terbaik (periode sahabat) maka akan semakin buruk kondisi umatnya dari segi iman, ilmu maupun amalnya.

Oleh karenanya, kalau kita ingin tetap mempertahankan keutuhan visi dan pemahaman Islam kita, maka tidak ada jalan lain kecuali kita harus merujuk pada sumber aslinya yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah berdasarkan pemahaman para salafus shalih.

Kalau kita sudah meyakini bahwa manhaj salaf adalah manhaj yang paling benar yang membawa kita kepada pemahaman Islam yang lurus, maka kita harus siap menanggung segala konsekuensi dari pengakuan kita, karena bukan hal yang mustahil kita akan dicemooh, dicela, dihina dan direndahkan oleh sebagian orang yang tidak tahu hakikat yang sebenarnya.

Tidak menutup kemungkinan mereka akan mengatakan: “Manhaj salaf adalah kuno, kolot dan ketinggalan jaman, sudah tak sesuai lagi untuk diterapkan pada masa sekarang ini.” Syubhat-syubhat semacam ini bisa jadi akan muncul kepermukaan, lalu bagaimana kita membantahnya?

Jawabnya sudah ada pada sabda Rasulullah saw.: “Islam muncul dalam keadaan asing dan kelak ia akan kembali menjadi asing. Maka beruntunglah mereka orang-orang yang asing tersebut.” Rasulullah ditanya: “Siapakah orang-orang yang asing itu wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Mereka adalah orang-orang yang berbuat ishlah (perbaikan) disaat manusia mulai rusak dan menyeleweng.” (HR. Ahmad) Dalam sebuah riwayat: “Mereka adalah orang-orang yang menghidupkan sunnahku dan mengajarkannya kepada manusia.”

Jadi disaat pertama kali Islam muncul ia muncul dalam keadaan asing karena harus berhadapan dengan ajaran-ajaran jahiliyyah yang beragam dan berkembang pada masa itu, mulai dari menyembah berhala, patung, menyembah api sampai pada menyembah malaikat serta berbagai bentuk penyembahan lainnya. Dan kelak Islam akan kembali menjadi asing ditengah-tengah pemeluknya sendiri, karena disaat itu berbagai penyimpangan lainnya yang oleh pelakunya ditutupi dengan baju Islam, sehingga orang-orang yang benar-benar berpegang teguh kepada akidah dan amaliyah Islam yang benar, yang menghidupkan sunnah-sunnah nabi yang sudah banyak dilupakan orang akan terasa asing.

Maka sagatlah tidak berlebihan kalau Rasulullah saw. menggambarkan keadaan suatu masa setelah wafatnya beliau dengan sabdanya: “Kelak akan datang suatu masa dimana orang yang sabar dalam mengamalkan Diennya pada masa itu ibarat orang yang menggenggam bara.” (HR. Tirmidzi).

Jadi kalau kita ingin benar-benar berpegang teguh di atas Dien Islam, kita harus tabah dan sabar dalam menghadapi berbagai resiko yang akan timbul. Kita juga dituntut untuk tetap komitmen di atas jalan yang benar meskipun orang yang mengikuti kita sangat sedikit. Camkanlah baik-baik kata-kata Sofyan bin Uyainah Rahimahullah guru dari Imam Asy-Syafi’i: “Tetaplah kamu melangkah di atas jalan yang haq dan janganlah kamu merasa kecil hati lantaran sedikitnya orang yang mengikuti Al-Haq tersebut.”

Mudah-mudahan kita semua selalu tetap dibimbing oleh Allah untuk tetap berada diatas kebenaran dan dikaruniakan kepada kita kesabaran dan ketabahan dalam mempelajari, mengamalkan dan memperjuangkan Dienul Islam ini sampai masing-masing dari diri kita kembali kepada Allah swt.

Wallahu ‘alam.

Dari berbagai sumber.

SATRIA SEJATI
“Putera Islam”

No comments: