Wednesday, April 19, 2006

NASEHAT: Sikap Ulama terhadap Pihak yang Mencela Ulama

Sikap Ulama terhadap Pihak yang Mencela Ulama
(Isham Talimah, Manhaj Fikih Yusuf al Qaradhawy, hlm. 223-226)
Imam Ibnu Abdul Barr dalam Jami' Bayan al 'Ilmi wa Fadhlihi menukil beberapa pendapat tentang sikap Islami terhadap ulama yang melakukan kesalahan; boleh dihujat atau tidak. Ibnu Abdul Barr berkata, "Banyak orang yang melakukan kesalahan dalam masalah ini dan tumbuh di dalam dirinya kecenderungan jahiliyah yang sebenarnya amat keliru. Padahal dalam masalah ini, jika ada seseorang yang kredibilitas amanahnya tidak diragukan dan ilmunya dapat dipercaya -apalagi sangat peduli terhadap ilmu pengetahuan dan dapat dipertanggungjawabkan- jangan hiraukan perkataan orang banyak tentangnya, kecuali orang itu mampu mendatangkan bukti yang menunjukkan kesalahan yang sangat fatal.

Selain itu, dapat pula dibuktikan melalui kesaksian-kesaksian yang jujur dalam melihat pendapatnya yang berkaitan dengan masalah fiqh. Adapun orang-orang yang tidak memiliki ilmu, belum jelas keimanannya, dan pendapat-pendapatnya tidak dianggap sebagai pendapat yang kuat, terhadap semua yang dikatakan hendaklah diteliti secara mendalam dan penerimaan terhadap pendapat itu dilihat dari kekokohan dalilnya."

Ia menambahkan, "Tidakkah kau lihat betapa lancangnya al Kufi berkata tentang Sa'ad bin Abi Waqqash Ra bahwa beliau adalah seorang penguasa yang tidak berlaku adil terhadap rakyatnya, tidak melakukan kebaikan dalam penyerangan perang dan tidak mendistribusikan harta negara secara adil. Padahal, kita tahu bahwa Sa'ad Ra adalah seorang sahabat yang ikut perang Badar dan salah seorang dari sepuluh sahabat yang mendapat kabar gembira dengan surga. Beliau pun satu dari enam orang yang diangkat 'Umar Ra untuk memilih khalifah sesudahnya. Diraiwayatkan bahwa setelah Rasulullah Saw meninggal, beliau ridha' kepada Sa'ad."

Kemudian, ia melanjutkan, "Sesungguhnya, orang yang telah melakukan tindakan melampaui batas dalam menghina dan mencela orang lain, mereka tidak akan puas dengan mencela orang-orang umu tanpa mencela orang-orang khusus; mereka tidak akan puas dengan hanya memaki orang bodoh tanpa mencela orang-orang 'alim. Semua itu adalah gambaran kebodohan dan kedengkian yang mendalam."

Imam Sufyan ats Tsauri berkata, "Tatkala orang-orang shalih disebut, turunlah rahmat. Siapa yang hanya hafal persengketaan, saling hasad, dengki, marah dan syahwat tanpa menyadari hal yang menjadi keutamaan mereka, ia tidak akan mendapatkan taufik Allah Swt dan ia akan masuk ke dalam ghibah yang akan menyimpangkannya dari kebenaran."

Abdul Aziz bin Hazim berkata, "Saya pernah mendengar ayah saya berkata, 'Ulama-ulama terdahulu jika bertemu dengan seseorang alim yang derajatnya berada di bawahnya, mereka tidak akan memandang rendah. Namun zaman kini, justru terjadi yang sebaliknya. Seorang yang lebih rendah ilmunya telah berani menghina para ulama yang jauh lebih tinggi ilmunya dengan harapan dapat melepaskan diri dari ulama tadi. Ia tidak mau jika ada orang yang sejajar dengannya dan selalu merendahkan orang yang ada di bawahnya. Jika begitu keadaannya, hancurlah manusian." Itu adalah ucapan ayah Abdul Aziz bin Hazim pada masa hidupnya berabad yang lalu, lalu bagaimana dengan sekarang ini menurut anda?

Suatu saat Abdullah bin Mubarak diberitahu bahwa ada beberapa orang yang merendahkan Abu Hanifah. Ibnul Mubarak langsung mengutip sebuah syair:
Mereka iri atasmu saat Allah memuliakanmudengan keutamaan orang-orang terpilih.

Ada seseorang yang berkata kepada 'Ashim bin an Nabil tentang beberapa orang yang meremehkan Abu Hanifah, lalu ia pun mengutip sebuah syair: Kau telah selamat, lalu adakah manusia yang selamat?

Abu Aswad ad Duali berkata, "mereka dengki kepada pemuda itu jika mereka tidak mampu mencapai derajat seperti dirinya. Manusia akan selalu menjadi musuh dan seteru bagi dirinya."

Diriwayatkan pula bahwa Nabi Musa As berkata, "Wahai Tuhanku, hentikan lidah orang-orang Israil yang menghujatku terus-menerus." Allah Swt mewahyukan kepadanya, "Wahai Musa, bagaimana mungkin Aku menghentikannya atas dirimu, sedangkan Aku sendiri tidak melakukan itu untuk diriku?" (Yusuf al Qaradhay menyatakan bahwa riwayat itu israiliyat).
Maksudnya, Allah Swt membiarkan Bani Israil mencela Nabi Musa As seperti mereka mencela Allah Swt untuk menunjukkan kepada mereka bahwa mereka adalah contoh manusia yang paling buruk karena kebiasaannya yang suka mencela. Mereka adalah bangsa yang membunuh pemimpin mereka sendiri, Yitzak Rabin, pada tahun 1995. Bahkan, terhadap manusia yang lebih mulia pun -yaitu para Nabi- mereka melakukan hal yang sama. alQuran pun sampai menyebut mereka sebagai bangsa kera dan babi. Itulah seburuk-buruk manusia.

No comments: