Wednesday, April 19, 2006

DEBAT: HUJATAN TERHADAP TOKOH-TOKOH IKHWAN


HUJATAN TERHADAP TOKOH-TOKOH IKHWAN
Tersebarnya fikrah dan jaringan Ikhwan ke berbagai penjuru dunia mendapat sambutan yang luas dan antusias dari mayoritas umat Islam. Umat menyambutnya dengan tangan terbuka dan senang hati seperti antrian pasien yang telah lama menanti kedatangan tabib yang akan mengobati penyakit mereka. Akhirnya dengan karunia Allah Swt, Ikhwanul Muslimun menjadi gerakan Islam terbesar abad modern. Namun, tidak dapat dipungkiri juga ada sebagian kecil umat yang menentangnya melalui berbagai media, majelis dan lembaga yang mereka miliki. Pandangan sinis, su’uzh zhann, bahkan tuduhan terus-menerus dilayangkan ke arah Ikhwan. Bahkan di mata mereka, Ikhwan adalah gerakan yang sama dengan tong sampah.(1).

Tidak ada kekhawatiran sedikitpun jika berbagai celaan itu datangnya dari kalangan atheis, komunis, sosialis, kapitalis, sekuleris, hedonis dan berbagai isme materialis lainnya karena itulah tugas mereka. Sudah semestinya alhaq tidak beriringan dengan albathil. Namun, kenyataan pahit harus dirasakan bahwa celaan datangnya justru dari saudara seiman; kawan seperjuangan yang telah mendakwakan dirinya sebagai penyeru dakwah tauhid, pemberantas bid’ah dan syirk. Sebuah bangunan yang dibina seribu orang hancur jika dirubuhkan satu orang. Bagaimana mungkin bangunan yang dibina satu orang dirubuhkan seribu orang?

Itu adalah musibah yang tidak kita kehendaki. Para ulama dan tokoh-tokoh dakwah Islam dihina serendah dasar lautan. Mereka mengolok-olok, memberi gelar mubtadi’ dan fasiq, serta menyisihkan karya-karyanya dari peredaran. Sungguh, tidak ada pembenaran sedikit pun terhadap perilaku ganjil seperti itu; tidak ada dalam alquran, tidak ada dalam hadist, dan tidak ada dalam atsar para sahabat dan salafush shalih. Allah ‘azza wa jalla memang pernah mencela. Rasul Saw pun demikian. Namun, semua itu ditujukan kepada manusia-manusia yang pantas menerimanya, seperti Fir’aun, Abu Jahal, Abu Lahab, Bani Israel, para penyembunyi kebenaran, kaum munafik dan orang yang enggan amar ma’ruf nahi munkar. Semua tela dicela Allah Swt dan RasulNya.

Namun jika yang adalah para ulama dan tokoh-tokoh dakwah yang telah diakui umat Islam sedunia-bahkan diakui pembesar-pembesar ulama masa kini, termasuk panutan pencela-hal itu adalah pandangan yang sangat aneh dan tidak mengenakkan. Amat baik jika mereka memperbaiki dan merenovasi pola pikir, akhlak dan adab mereka yang bermasalah.

Mereka melakukan upaya tahdzir (2) terhadap Hasan al Banna, Sayyid Quthb, Yusuf al Qaradhawy, Muhammad al Ghazaly, Abul A’la al Maududy, dan Abdul Qadir ‘Audah. Sebagian tokoh itu ada yang telah menemui Rabbnya dengan syahid dan sebagian masih menunggu untuk itu. Mereka melakukan tahdzir -sebenarnyalebih tepat disebut celaan- dengan alasan orang-orang itu memiliki kesalahan yang tidak sedikit dalam buku-bukunya yang harus diketahui umat demi keselamatan agama mereka.

Sungguh, justru sikap mereka yang menyimpang dari adab Islam itu telah membuat terbuka penyimpangan-penyimpangan lain yang melekat pada diri mereka. Para ulama dunia –demi mencari ridha’ Allah Swt dan menjaga kehormatan agama –bangkit menyambut mereka dengan berondongan nasihat agar mereka menyadari kekeliruan langkah mereka. Tahdzir yang mereka inginkan didapat, begitu pula ketenaran. Banyak orang akan berkata, “Lihat s Fulan berani men-tahdzir Yusuf al Qardhawy” sehingga nama mereka diabadikan sebagai manusia yang berani menelanjangi kehormatan para ulama. Tindakan mereka itu tidak mengurangi sedikitpun hak ulama. Sejarah telah berjalan, manusia telah berganti, tetapi mereka yang tercaci tetap hidup di hati umat dan abadi karena keikhlasan mereka dalam fi sabilillah dengan darah dan pena mereka.

Kami telah dapati sebuah buku yang amat mengerikan isinya. Antara muatan dan judul sama sekali tidak nyambung. Penuh caci maki atas nama Ahlussunnah terhadap Ikhwan dan gerakan lain. Sang penulis, Zaik bin Muhammad bin Hadi al Madkhaly, tampak gusar dengan tersebarnya dakwah Ikhwan yang dianggapnya sebagai teror pemikiran dengan tutur kata yang tidak dapat dikatakan sopan.

Sebagai contoh, ia berkomentar terhadap al Maududy, “Tulisannya kekal, sedang si penulis sudah binasa.”(3) Lembar demi lembar berganti, ternyata amat banyak tokoh gerakan Islam yang tidak selamat dari tikamannya. Kami berharap itu semua hanya kekliruan terjemahan alias penulis tidak bermaksud demikian. Namun, apakah kesalahan sebanyak itu? Sayangnya, penulis telah membiarkan penyanya menari-nari untuk menjelekkan para ulama. Hall itu menjadi semakin sulit dan rumit ketika ternyata para tokoh itu tidak dianggap sebagai ulama sehingga ia semakin berani mencela.

Syaikh Muhammad bin Hadi –semoga Allah Swt memberi petunjuk kepadanya dan kita – pernah mengatakan (4) bahwa Sururiyin (5) dan Ikhwaniyin (6) adalah ahli bid’ah paling berbahaya zaman ini. Dr. Yusuf al Qaradhawy dijadikannya contoh ahli bid’ah dari Ikhwan. Menurutnya, fatwa Syaikh al Qaradhawy tentang jihad di Palestina – menurut al Qaradhawy, peperangan kita melawan Israel bukan masalah aqidah, melainkan mereka telah menyerang dan mengusir penduduk Palestina –adalah fatwa paling jahat!

Ya Allah..! Kami tidak pernah mengerti hal yang membuat Muhammad bin Hadi bersikap seperti itu. Apakah ia tidak tahu atau pura-pura tidak tahu bahwa fatwa seperti itu adalah pandangan jumhur (mayoritas) ulama. Jumhur ulama kita mengatakan peperangan kita dengan orang kafir bukanlah masalah aqidah, melainkan karena adanya permusuhan dan pengusiran yang mereka lakukan terhadap kita seperti yang dikatakan Ibnu Taimiyah dalam Risalah Qital. Apakah Muhammad bin Hadi menganggap jumhur ulama dan Ibnu Taimiyah berfatwa jahat? Tentang hal itu, kami membahas dalam bagiannya tersendiri.

Yusuf al Qaradhawy disebut al Qaradha (sang penggunting) Assunnah. Hasal al Banna dituduh sebagai sufi berpaham bathiniyah (paham sesat dalam tasawwuf). (7) Bahkan, Hasan al Banna yang dipuji Syaikh Ibnu al Jibrin –seorang ulama anggota Kibarul Ulama –telah dikomentari dengan perkataan yang amat tendensius. Zaid bin Muhammad binHadi berkata tentang al Banna, “Bahwasanya tidak diperkenankan bagi setiap orang untuk menghormati, bahkan menjadikannya seorang Imam yang dipanuti dalam akidah maupun akhlak, ibadah dan manhaj dakwahnya karena terdapat kesalahan fatal yang dibenci ulama as Salafiyun ar Rabbani dalam beberapa segi itu.” (8).

Masih kurang puas, Zaid bin Hadi memacu kuda kebenciannya dengan membuat seruan terbuka kepada segenap toko buku dan penerbitan yang isinya agar manusia menjauhi buku-buku, kaset-kaset dan selebaran (9) yang dikarang Sayyid Qutb, Muhammad al Ghazaly, Yusuf al Qaradhawy, Abul A’la al Maududy, Hasan al Banna, Muhammad Surur, Muhammad ar Rasyad, Sa’id Hawwa, Salman al’Audah, Safar al Hawali, murud-murid al Banna, dan keluarga Quthb. (10) Demikianlah sebagian celaan itu, terjadi dan terus terjadi hingga hari ini. Hal itu pun diikuti sebagian kecil pemuda yang awam terhadap masalah sebenarnya sebagai taqlid mereka terhadap tokoh-tokoh mereka.

Seharusnya para pemuda itu, selain mempelajari akidah, fiqh, tafsir dan hadist, harus mempelajari juga cara seorang muslim berakhlak terhadap muslim lainnya, terhadap orangtua, guru, orang yang berbeda, dan ulama. Pahamilah itu secara benar, lalu tawadhu dengannya. Boleh jadi ada kekeliruan yang dilakukan ulama dan tampak kekeliruan tersebut oleh para pemuda penuntut ilmu. Untuk itu mereka berhak untuk menasihati sesama muslim walau levelnya lebih tinggi. Namun, sama sekali tidak dibenarkan menodai kehormatan ulama dan yang demikian itu bukanlah akhlak salafus shalih yang sama-sama ingin kita teladani.

Berkata Imam Syathiby, “Sesungguhnya, tidak terburu-buru mengkritik ulama yang telah dikenal umat kemapanan ilmu, amanah dan sikap adilnya adalah suatu sifat yang mulia. Hendaklah seorang penuntut ilmu menuduh pendapatnya yang salah dan pendapat ulama lah yang benar. Janganlah tergesa-gesa mengkritik pendapat ulama sebelum menelitinya terlebih dahulu.”

Berkata Imam al Hafizh Ibnu ‘Asakir ad Dimasyqi, “Ketahuilah wahai saudaraku, semoga engkau diberik taufik Allah Swt untuk menggapai ridha’ Nya dan semoga Ia jadikan kita orang yang takut dan bertakwa kepada-Nya dengan sebenar-benarnya takwa bahwa daging para ulama rahimahumullah mempunyai racun. Sunnatullah Allah Swt bagi orang yang mencela ulama sudah dimaklumi bersama karena mencela sesuatu yang mereka sama sekali tidak pernah melakukannya, tentu berakibat sangat besar. Mengada-ada dan melanggar kehormatan mereka adalah lembah kehancuran dan membelakangi orang-orang yang dipilih Allah Swt dalam mengembangkan agama-Nya adalah suatu cela.” (11)

Sesungguhnya Rasulullah Saw mengajarkan umat Islam untuk menghormati ulama dan mencintainya. Jika mereka keliru dalam ijtihad-nya, kita serahkan kepada ulama yang ilmunya mumpuni untuk memberi koreksi secara ilmiah dan etis tanpa mengingkari haknya untuk tetap memperoleh penghargaan satu pahala dari Allah ‘Azza wa Jalla. Jika mereka benar, kita diajarkan untuk menerimanya karena kebenaran hakikatnya hanyalah dari Allah Swt. Tidak selayaknya kita malu menerima kebenaran itu walau datangnya dari musuh, apalagi dari ulama. Kesombongan adalah sikap tidak mau menerima kebenaran seperti yand disebutkan dalam sebuah hadist Nabi Saw.

Jika ada ulama yang memberikan pujian dan kesaksian positif terhadap ulama lain, hal itu harus diakui dan diterima dengan ikhlas. Jangan pernah membebani diri mencari-cari kesalahan dari pujian itu dengan memberikan takwail-takwil yang dipaksakan (takkaluf) agar pujian-pujian tersebut terlihat tidak pantas diterima. (12).

Sesungguhnya, setiap yang keluar dari lisan dan pena manusia akan dipertanggung-jawabkan di depan mahkamah Allah Swt kelak. Manusia tidak dapat mengelak dari dakwaan saat itu karena peristiwa itu adalah peristiwa yang sungguh besar. Selagi ajal belum menjemput, belum terlambat bagi manusia untuk melakukan koreksi dari ketergelinciran lisan, pikiran, maupun tulisan masa lalu agar selamat dari azab-Nya yang pedih. Jangan malu memperbaiki diri atau sungkan menerima kebenaran karena itu adalah kunci agar kita semakin baik dan dekat dengan kebenaran. Semoga Allah Swt menyatukan hati-hati kita dalam perjalanan menuju-Nya serta menghilangkan rasa ghill (dengki) terhadap orang-orang yang beriman.
------------------------------
[1] Penerjemah buku Terorisme dalam Tinjauan Islam (al Irhab wa Atsaruhu ‘alal Afrad wal Umam- terjemahan langsungnya Teror dan Pengaruhnya atas Individu dan Umat) berkata, “Tepat sekali jika gerakan IM dinyatakan sebagai gerakan tong/tempat sampah. Semua yang berbau busuk dan kotor ada di dalamnya. “ (Zaid bin Muhammad bin Hadi al Madkhaly, Terorisme dalam Tinjauan Islam, hlm. 50, catatan kaki no. 13).

[2] Tahdzir adalah upaya ulama menerangkan kekeliruan seseorang agar umat berhati-hati dan menjauhi kesalahan orang tersebut. Upaya tahdzir itu harus dilakukan ulama yang mendalam ilmunya, bukan para pemuda penuntut ilmu yang usil mulutnya!

[3] Zaid bin Muhammad bin Hadi al Madkhaly, Terorisme dalam Tinjauan Islam, hlm. 58, catatan kaki no. 24.

[4] Salafy edisi V/Dzulhijjah/1416/1996, hlm. 64.

[5] Sururiyin adalah orang-orang mengikuti Muhammad Surur Zainal Abidin, mantan anggota IM yang hidup di Saudi. Menurut mereka, ia telah menyelinap dan memecah gerakan salafiyah.

[6] Ikhwaniyin adalah sebutan mereka bagi para pengikut Ikhwanul Muslimun.
[7] Salafy edisi III/Syawal/1416//1996, hlm. 13.

[8] Zain bin Hadi al Madkhaly, Op Cit, hal. 57. Catatan kaki no. 22.

[9] Apakah maksud beliau membuat seruan ini karena faktor ekonomi, karena buku ulama yang dicelanya amat laris pada zaman ini, faktor ketenaran, atau semata ingin menasihati manusia? Jika demikian, itu adalah metode yang keliru dan aneh.

[10] Ibid, hlm. 152-154.

[11] As Sunnah, edisi 01/Tahun V/2000M/1412H, hlm. 6-7.

[12] Zaid bin Muhammad bin Hadi al Madkhaly telah berupaya mementahkan pujian Syaikh ibnu Jibrin terhadap Hasan al Banna dan Sayyid Quthb. Ia memaksakan diri menakwilkan pujian itu secara tidak ilmiah. (Lihat upaya melelahkan Zaid bin Hadi ini dalam Terorisme dalam Tinjauan Islam, hlm. 121-130).

2 comments:

bçThêMøûñtå!ñêê® said...

tulisan yg bagus sekali..

bçThêMøûñtå!ñêê® said...

tulisan yg bagus sekali..