Perbaruilah Iman kalian!
Rasulullah saw, bersabda: “Perbaruilah din (iman) kalian.” (HR. Ahmad).
Lazimnya seorang aktivis, karena khidmadnya terhadap perjuangan niscaya menjadikannya sibuk dengan dakwah dan berbagai urusan keumatan lainnya. Apalagi yang telah dikaruniakan kesadaran dan kemampuan, terlibat dalam amal nyata demi memerangi musuh-musuh Islam. Padahal dia juga manusia biasa, yang karenanya ia juga masih harus menanggung urusan pribadinya, nafkah dan tanggung jawab keluarga lainnya. Tak ayal, justru dengan beragam pekerjaan dan banyaknya tanggung jawab menjadikannya riskan terperosok dalam future (penurunan iman). Karenanya, ia lebih butuh untuk memperbarui iman jika disbanding dengan manusia lainnya.
Seorang muslim berjalan kepada Allah Ta’ala dengan hatinya bukan dengan badannya. Anggota badan adalah sebuah refleksi yang muncul dari pancaran hati dan iman. Jika iman seseorang kuat, maka ia akan mempunyai tekad yang kuat dan mantap dalam menjalankan pekerjaan-pekerjaan dakwah dan amal Islami, akan tetapi sebaliknya jika hatinya atau imannya lemah, maka sulit bagi kita untuk mengikhlaskan seluruh amalan kita karena Allah Ta’ala.
Kadang-kadang keikhlasan, kejujuran, keyakinan, kezuhudan, ketakwaan, khasyah serta inabahnya seorang aktivis berkurang jauh dibanding pada awal ia memahami Islam. Ikhwan sekalian, semuanya ini terjadi karena banyak diantara kita yang meremehkan amalan-amalan hati. Banyak diantara kita yang kurang serius dan malas dalam setiap urusan, banyak bergaul dengan siapa saja dan tidak memperdulikan apakah ada keuntungan akhiratnya atau tidak, dan banyak diantara kita yang kekenyangan dalam makan dan minum, serta masalah-masalah lain yang sebenarnya tidak sampai tingkatan haram. Tetapi apakah seorang muslim akan melaksanakan sebuah pekerjaan hanya bersandarkan halal dan haram saja? Tidak, tentunya kita beramal melihat lebih mendalam lagi yaitu apakah amalan yang saya laksanakan ini ada keuntungan akhiratnya atau tidak?
Betapa banyak saudara-saudara kita yang terjerumus dalam kefuturan dalam memperjuangkan Islam dikarenakan tidak memperhatikan imannya. Setinggi apapun amal yang telah ia kerjakan dan sebesar apapun kedudukan dia dihadapan manusia wajib bagi dia untuk memperbarui iman.
Banyak kita jumpai aktivis-aktivis yang telah mencapai prestasi yang gemilang dalam beramal Islami dan beramal dalam Islam, dan bahkan umurnya dia habiskan untuk menegakkan Islam tapi diakhir hayatnya dia mati dalam keadaan syu’ul Khotimah. Maka bagaiman mungkin dia berjalan menuju Allah Ta’ala sedangkan hatinya diam tidak bergerak, dan bekal dia habis tanpa sempat mencari yang lain?!.
Bekal terdahulu telah habis bersamaan dengan sampainya ia kesatu jenjang tertentu dari perjalanannya menuju Allah Ta’ala. Kini tiada tersisa dan terpuruklah sang hamba diatas kesuksesan yang menjerumuskan, yaitu tipuan syahwat dan hinanya syubhat.
Ada banyak cara dalam memperbaiki iman, yang semuanya terpulang pada pelakunya. Apakah dia betul-betul memiliki keinginan yang kuat sehingga ia dimudahkan Allah dalam memperbaiki imannya atau sebaliknya. Diantara hal-hal yang menyuburkan iman adalah:
Membaca Sirah Salafush Shalih.
Membaca orang-orang yang zuhud akan mentarbiyah hati menjadi zuhud. Membaca kisah-kisah para mujahidin dan para syuhada’ akan menjadikan hati tergantung pada langit, seakan-akan hidup bersama mereka, terilhami oleh mereka dan berandai-andai termasuk dari mereka. Bahkan dengan membaca sirah mereka, seseorang akan merasakan bahwa dirinya tengah berbaris bersama mereka dan seakan-akan berjihad dan berbaris bersama mereka.
Kisah Khalid bin Walid, Sa’ad bin Abi Waqqash, Amir bin Jarh dan yang lainnya telah menghidupkan hati yang bersama mereka, menggelorakan semangat mereka dan menggelorakan jiwa untuk bersama mereka untuk mengobarkan segala potensi yang dipunyai untuk menyuburkan pohon yang agung yaitu Islam.
Karena itulah para sahabat menceritakan peperangan-peperangan Rasulullah saw, kepada mereka sebagaimana mengajarkan Al-Qur’an.
Sa’ad bin Abi Waqqash berkata: “Kami mengajarkan anak-anak kami tentang peperangan Rasulullah saw, sebagaimana kami mengajarkan surah Al-Qur’an kepada mereka.”
Kholwah.
Salah satu cara yang dipakai seorang aktivis dalam memperbarui iman adalah dengan menyendiri untuk qiyamullail, dzikir dan membaca Al-Qur’an. Dalam sebuah atsar menyebutkan bahwa seorang alim itu membagi waktunya untuk tiga hal, yang salah satunya waktu dia untuk berkholwah atau menyendiri yaitu merenungi diri.
Bagi seorang aktivis waktu ini sangatlah penting untuk bermuhasabah apakah amalan yang dilaksanakan sudah betul dan ikhlas karena Allah Ta’ala. Bahkan waktu kholwah ini kita mendekatkan diri pada Allah swt, dengan menangisi dosa dan kesalahan yang kita perbuat.
Sangat mungkin kita jumpai seorang aktivis yang telah bertahun-tahun memperjuangkan Islam dan bahkan waktu-waktunya habis dipergunakan untuk ummat akan tetapi belum pernah meneteskan airmatanya pada Allah Ta’ala, pada hal Rasulullah saw, menyampaikan dalam haditsnya bahwa diantara tujuh golongan yang akan dinaungi Allah Ta’ala pada hari yang tiada naungan kecuali naungannya adalah:
“Seseorang yang mengingat Allah dalam kesepian kemudian meneteslah airmatanya.” (HR.Bukhari).
Berdzikir sendiri atau dalam keadaan sepi yang dimaksud dalam hadits tersebut adalah sunyi dari rasa riya’, sum’ah dan ia hanya ditemani dengan keikhlasannya.
Masih banyak sebenarnya hal-hal yang menjadikan iman kita tambah kuat, akan tetapi para ikhwan bisa membuka sendiri di beberapa kitab para ulama’. Semoga kita senantiasa dibimbing Allah Ta’ala untuk menapaki jalan-Nya dan semoga Allah memudahkan kita menempuh jalan kebenaran tersebut. (Amru)
Seorang muslim berjalan kepada Allah Ta’ala dengan hatinya bukan dengan badannya. Anggota badan adalah sebuah refleksi yang muncul dari pancaran hati dan iman. Jika iman seseorang kuat, maka ia akan mempunyai tekad yang kuat dan mantap dalam menjalankan pekerjaan-pekerjaan dakwah dan amal Islami, akan tetapi sebaliknya jika hatinya atau imannya lemah, maka sulit bagi kita untuk mengikhlaskan seluruh amalan kita karena Allah Ta’ala.
Kadang-kadang keikhlasan, kejujuran, keyakinan, kezuhudan, ketakwaan, khasyah serta inabahnya seorang aktivis berkurang jauh dibanding pada awal ia memahami Islam. Ikhwan sekalian, semuanya ini terjadi karena banyak diantara kita yang meremehkan amalan-amalan hati. Banyak diantara kita yang kurang serius dan malas dalam setiap urusan, banyak bergaul dengan siapa saja dan tidak memperdulikan apakah ada keuntungan akhiratnya atau tidak, dan banyak diantara kita yang kekenyangan dalam makan dan minum, serta masalah-masalah lain yang sebenarnya tidak sampai tingkatan haram. Tetapi apakah seorang muslim akan melaksanakan sebuah pekerjaan hanya bersandarkan halal dan haram saja? Tidak, tentunya kita beramal melihat lebih mendalam lagi yaitu apakah amalan yang saya laksanakan ini ada keuntungan akhiratnya atau tidak?
Betapa banyak saudara-saudara kita yang terjerumus dalam kefuturan dalam memperjuangkan Islam dikarenakan tidak memperhatikan imannya. Setinggi apapun amal yang telah ia kerjakan dan sebesar apapun kedudukan dia dihadapan manusia wajib bagi dia untuk memperbarui iman.
Banyak kita jumpai aktivis-aktivis yang telah mencapai prestasi yang gemilang dalam beramal Islami dan beramal dalam Islam, dan bahkan umurnya dia habiskan untuk menegakkan Islam tapi diakhir hayatnya dia mati dalam keadaan syu’ul Khotimah. Maka bagaiman mungkin dia berjalan menuju Allah Ta’ala sedangkan hatinya diam tidak bergerak, dan bekal dia habis tanpa sempat mencari yang lain?!.
Bekal terdahulu telah habis bersamaan dengan sampainya ia kesatu jenjang tertentu dari perjalanannya menuju Allah Ta’ala. Kini tiada tersisa dan terpuruklah sang hamba diatas kesuksesan yang menjerumuskan, yaitu tipuan syahwat dan hinanya syubhat.
Ada banyak cara dalam memperbaiki iman, yang semuanya terpulang pada pelakunya. Apakah dia betul-betul memiliki keinginan yang kuat sehingga ia dimudahkan Allah dalam memperbaiki imannya atau sebaliknya. Diantara hal-hal yang menyuburkan iman adalah:
Membaca Sirah Salafush Shalih.
Membaca orang-orang yang zuhud akan mentarbiyah hati menjadi zuhud. Membaca kisah-kisah para mujahidin dan para syuhada’ akan menjadikan hati tergantung pada langit, seakan-akan hidup bersama mereka, terilhami oleh mereka dan berandai-andai termasuk dari mereka. Bahkan dengan membaca sirah mereka, seseorang akan merasakan bahwa dirinya tengah berbaris bersama mereka dan seakan-akan berjihad dan berbaris bersama mereka.
Kisah Khalid bin Walid, Sa’ad bin Abi Waqqash, Amir bin Jarh dan yang lainnya telah menghidupkan hati yang bersama mereka, menggelorakan semangat mereka dan menggelorakan jiwa untuk bersama mereka untuk mengobarkan segala potensi yang dipunyai untuk menyuburkan pohon yang agung yaitu Islam.
Karena itulah para sahabat menceritakan peperangan-peperangan Rasulullah saw, kepada mereka sebagaimana mengajarkan Al-Qur’an.
Sa’ad bin Abi Waqqash berkata: “Kami mengajarkan anak-anak kami tentang peperangan Rasulullah saw, sebagaimana kami mengajarkan surah Al-Qur’an kepada mereka.”
Kholwah.
Salah satu cara yang dipakai seorang aktivis dalam memperbarui iman adalah dengan menyendiri untuk qiyamullail, dzikir dan membaca Al-Qur’an. Dalam sebuah atsar menyebutkan bahwa seorang alim itu membagi waktunya untuk tiga hal, yang salah satunya waktu dia untuk berkholwah atau menyendiri yaitu merenungi diri.
Bagi seorang aktivis waktu ini sangatlah penting untuk bermuhasabah apakah amalan yang dilaksanakan sudah betul dan ikhlas karena Allah Ta’ala. Bahkan waktu kholwah ini kita mendekatkan diri pada Allah swt, dengan menangisi dosa dan kesalahan yang kita perbuat.
Sangat mungkin kita jumpai seorang aktivis yang telah bertahun-tahun memperjuangkan Islam dan bahkan waktu-waktunya habis dipergunakan untuk ummat akan tetapi belum pernah meneteskan airmatanya pada Allah Ta’ala, pada hal Rasulullah saw, menyampaikan dalam haditsnya bahwa diantara tujuh golongan yang akan dinaungi Allah Ta’ala pada hari yang tiada naungan kecuali naungannya adalah:
“Seseorang yang mengingat Allah dalam kesepian kemudian meneteslah airmatanya.” (HR.Bukhari).
Berdzikir sendiri atau dalam keadaan sepi yang dimaksud dalam hadits tersebut adalah sunyi dari rasa riya’, sum’ah dan ia hanya ditemani dengan keikhlasannya.
Masih banyak sebenarnya hal-hal yang menjadikan iman kita tambah kuat, akan tetapi para ikhwan bisa membuka sendiri di beberapa kitab para ulama’. Semoga kita senantiasa dibimbing Allah Ta’ala untuk menapaki jalan-Nya dan semoga Allah memudahkan kita menempuh jalan kebenaran tersebut. (Amru)
No comments:
Post a Comment