BERSIH AKIDAH AMAL MELIMPAH
Perhatian muslimah terhadap agamanya,hendaknya tidak melulu terfokus pada banyaknya amaliah dan karakter zhahir semata. Kekuatan aqidah dan kelurusannya mesti menjadi prioritas utama untuk dibenahi dan diluruskan. Karena aqidah bagi seluruh amal laksana akar bagi pohon, jika ia busuk niscaya rusaklah batang, daun dan bahkan buahnya. Aqidah laksana pondasi bagi bangunan rumah, apalah guna bangunan indah jika dibangun di atas pondasi yang rapuh.
Allah juga tidak akan menerima amal dari orang yang hatinya tercemar oleh aqidah syirik: ”Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu: ”Jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” (QS Az-zumar 65).
Wanita dan Budaya Syirik
Tak dapat dielakkan, keterlibatan kaum wanita modern dalam kancah klenik dan kesyirikan masih merebak. Pada beberapa sisi, jumlah wanita yang mengkonsumsi kesyirikan bisa jadi lebih banyak dari kaum lelaki.
Seperti memasang susuk, nyaris tidak dilakukan kecuali oleh wanita. Sudah tentu prosesinya dilakukan oleh dukun dan paranormal yang tak sepi dari nuansa syirik. Kita juga sering mendapatkan, pemandu upacara adat yang berbau syirik berjenis kelamin wanita. Begitupun dengan pemain yang terlibat dalam ritual itu. Kepercayaan tentang takhayul lebih banyak didominasi wanita. Dan umumnya mereka lebih takut meninggalkan ritual syirik dari kaum lelaki. Baik takut resiko omongan orang ataupun takut akan datangnya musibah jika ritual tertentu ditinggalkan. Maka kepekaan terhadap kesyirikan harus senantiasa diasah dengan ilmu dan peringatan.
Memperhatikan Ilmu Tentang Aqidah
Kaum muslimah hari ini umumnya begitu tertarik dengan kajian yang sifatnya menyentuh emosi atau rasa. Tentu tak ada cela karenanya. Namun yang disayangkan, kajian tentang aqidah yang benar, ilmu tentang prinsip aqidah, ilmu tentang asma dan sifat Allah dan bagaimana cara mengimaninya, ilmu tentang perkara yang merusak amal atau bahkan pembatal keislaman sangat sepi dari peserta. Padahal, betapa persoalan aqidah dan tauhid ini menempati prioritas utama untuk dimengerti dan didalami.
Di antara ulama berpendapat bahwa seluruh isi Al-Qur’an terkait dengan tauhid. Karena isi Al-Qur’an berkisar pada beberapa poin, diantaranya:
Pertama, perintah untuk bertauhid dan larangan berbuat syirik.
Kedua, berisi tentang ma’rifah terhadap asma’ dan sifat Allah sebagai dzat yang tak boleh disekutukan dengan suatu apapun.
Ketiga, anjuran beramal shalih dan larangan berbuat dosa yang merupakan konsekuensi bagi orang yang bertauhid.
Keempat, berita tentang jannah yang disediakan bagi manusia yang bertauhid dan melaksanakan konsekuensinya. Juga berita tentang neraka yang disediakan bagi mereka yang berbuat syirik atau kurang dalam memenuhi hak-hak tauhid.
Cukuplah kabar gembira sekaligus ancaman dari Nabi saw. sebagai bukti akan urgensi tauhid: “Barangsiapa yang mati dalam keadaan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu maka dia pasti masuk jannah, dan barangsiapa mati dalam keadaan menyekutukan Allah dengan sesuatu, pasti dia masuk neraka.” (HR Muslim).
Ruang Lingkup Ilmu Akidah
Ada beberapa ilmu yang wajib untuk diketahui oleh setiap muslim dan tidak boleh baginya untuk ‘tidak tahu’ atau salah dalam memahaminya. Ilmu akidah yang dimaksud adalah tentang Allah, baik mengenai asma’ dan sifat-Nya, maupun hak-hak-Nya, ilmu tentang para malaikat, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, hari Kiamat, takdir dan hal-hal yang berhubungan dengannya.
Tentang pentingnya ilmu-ilmu tersebut tampak dalam riwayat ketika seorang sahabat bermaksud memerdekakan budak wanitanya, Nabi berkenan mengundang budak tadi dan mengujinya. Beliau bertanya: “Di manakah Allah?” Sambil mengacungkan tangannya ke langit, wanita itu menjawab: “Di langit”. Sebagai hadiah dari jawaban yang benar tersebut, Nabi bersabda kepada sahabat yang menjadi majikan budak itu: “Merdekakan dia, karena dia seorang mukminah.” (HR. Muslim).
Wanita itu tidak menjawab: “Allah ada di mana-mana atau Allah bersemayam di seluruh makhluk yang ada” seperti yang diyakini oleh ‘huluuli’ (yang meyakini bahwa Allah menjelma dalam wujud makhluk-Nya) atau penganut wihdatul wujud. Sehingga seorang tokoh mereka yang bernama Abu Hamzah as-Shufi ketika mendengar suara kambing mengembik dia berkata: ‘labbaika ya sayyidi..labbaika ya sayyidi’, aku penuhi panggilanmu wahai tuanku (Allah),’ karena dia meyakini bahwa Allah ‘hulul’ di jasad kambing tersebut. Sungguh ini merupakan bentuk pelecehan kepada Allah yang diawali oleh kesesatan akidah dalam bermakrifah kepada Allah.
Seseorang pernah menemui Ubai bin Ka’ab ra. dan berkata: “Hatiku belum sreg berkaitan dengan takdir.” Beliau berkata: “Seandainya engkau menginfakkan segunung uhud emas, niscaya Allah tidak menerima sedekahmu, kecuali jika engkau mengimani takdir Allah.” (Riwayat Al-Hakim, beliau menshahihkannya).
Selanjutnya Perbanyak Amal
Jika akidah telah lurus, maka sekecil amalpun tak akan sia-sia kita kerjakan. Tentu saja selagi masih dalam garis yang digariskan oleh syariat, semakin banyak amal tentu semakin besar pahalanya. Ada kiat untuk memacu semangat beramal shalih.
Pertama, pelajarilah perkara-perkara yang dengannya anda dapat mengumpulkan kebaikan, yakni anda menghitung pahala dan ganjaran pada setiap amal anda. Pelajarilah strategi untuk bisa selamat di akhirat sebagaimana anda mempelajari siasat agar selamat di dunia. Pelajari tentang amal-amal yang paling utama. Hari-hari yang paling utama dan sedekah yang paling utama.
Kedua, bergabunglah bersama orang-orang yang sibuk dengan amal kebaikan, karena (kondisi) seseorang itu tergantung agama temannya.
Ketiga, bacalah kisah para ulama yang memiliki mujahadah tinggi dalam beramal shalih. Mereka tidak pernah meremehkan kebaikan sekecil apapun, karena pahala yang terkecil di akhirat itu lebih baik daripada dunia dan seisinya.
Keempat, lakukanlah muhasabah atau evaluasi atas amal di setiap penghujung hari. Seperti pedagang yang menghitung laba rugi setiap selesai berniaga. Anggaplah kewajiban sebagai modalnya, amal sunnah sebagai labanya dan dosa sebagai kerugiannya. Dengan begitu anda dapatkan laba rugi perniagaan anda dengan Allah di hari itu.
Jika ada yang kurang, tutuplah dengan amal shalih. Seperti yang dilakukan oleh seorang salaf yang selalu menutup harinya dengan sedekah setelah mendapatkan kekurangan amalnya di hari itu.
Semoga Allah memberikan taufik kepada kita untuk mendapatkan bersihnya aqidah dan amal yang memberitahu kami melimpah, Amien.
Ar-Risalah, Menata Hati Menyentuh Ruhani
No comments:
Post a Comment