Saudaraku……
Katakan Tidak Untuk…
Katakan Tidak Untuk…
Saudaraku……
Konflik masih berlangsung di Palestina. Setiap kalinya hampir selalu meminta korban, anak kecil, remaja, orang tua, laki-laki dan perempuan. Tentara Israel hari-hari ini adalah monster mengerikan bagi bangsa Palestina, membantai siapapun tanpa alasan yang jelas, hanya karena mereka lahir sebagai orang Palestina, beragama Islam.
Mimpi-mimpi buruk yang tak kunjung selesai menyisakan kepedihan tak terkatakan. Aroma anyir darah yang tak pernah berhenti tumpah di seluruh negeri, berbaur dengan asap mesiu yang selalu menyentakkan satu kesadaran.
Peperangan sedang berlangsung!
Peperangan yang mencerai-beraikan keluarga, memisahkan seorang teman dari sahabatnya, anak-anak dari tempat-tempat bermain mereka dan murid-murid dari ruang-ruang kelas tempat mereka belajar. Peperangan yang membuat segala bentuk penderitaan dan atmosfir kemuraman adalah sebuah keniscayaan.
Tapi lihatlah!
Harga diri mereka sebagai muslim membuat mereka gagah berani memberikan perlawanan. Perlawanan seluruh hati dan perasaan, seluruh jiwa dan raga. Perlawanan tak terbatas waktu, tak pernah berakhir dunia akhirat. Perlawanan akidah!
Saudaraku……
Kalau kita hadir dan lihat perlawanan bangsa Palestina melawan penjajah Israel, sungguh ini adalah pemandangan yang mengiris kalbu. Bukan saja karena tidak seimbangnya persenjataan yang dipakai senjata mutakhir bangsa Israel itu hanya dilawan dengan lemparan batu-batu dan gema takbir. Tapi juga karena kita ternyata tidak bisa berbuat banyak untuk membantu mereka, saudara-saudara kita seagama.
Saudaraku……
Hanya batu yang bisa mereka lemparkan kepada tentara Israel berhati batu itu. Batu-batu penuh barakah, karena keimanan yang mereka miliki telah membuat mereka melempar atas nama Allah:
"Dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar." (QS. Al-Anfal: 17).
Hujan batu bertenaga takbir melayang membuat tentara Israel putus asa menghadapinya. Membolak-balikkan logika mereka tentang "kesepadanan persenjataan" dan "kelemahan Palestina".
Saudaraku……
Pernahkah terfikirkan, dari mana dana pembantaian demi pembantaian ini mengucur? Dana yang mengalir seolah tanpa henti. Butir demi butir peluru muntah menembus dada kaum muslimin mengantarkan kesyahidan mereka bagai aliran air di sungai. Deras dan terus menerus.
Saudaraku……
Dana peperangan ini adalah harga diri sebuah gaya hidup. Gaya hidup konsumerisme yang di miliki oleh hampir seluruh kaum muslimin di dunia, imbas dari benturan budaya dan globalisasi. Gegar budaya dan selanjutnya rasa minder yang membuat mereka akrab dengan produk-produk Amerika, kaki tangan Yahudi. Membentuk nilai rasa mereka tentang makna sebuah kenikmatan dunia.
Jeratan selera global dan ‘prestise’ mengakrabkan kaum muslim dengan produk-produk Amerika. Keakraban seluruh tubuh, keakraban rumah tangga dan lingkungan. Aroma Amerikalah yang tercium dalam atmosfer kehidupan kita, tanpa menyisakan sebuah ruang kosong pun, kecuali produk Amerika ada disana.
Coca cola, Pepsi, KFC, Burger King, Pizza Hut dan Mac Donalds adalah sedikit di antara yang bisa kita sebut. Masih ada ratusan bahkan mungkin ribuan produk-produk Amerika yang memberikan keuntungan penjualannya untuk membantu kegiatan-kegiatan Yahudi. Baik yang memang ‘imported’ maupun yang sudah mengalami ‘mimikri’ perubahan bentuk seolah ia adalah produk pribumi. Tak jarang model yang ‘terbayar’ adalah sosok yang dikenal publik sebagai seorang muslim berkomitmen.
Idiom-idiom komunikasi yang di pakaipun adalah bahasa-bahasa yang akrab dengan idiom-idiom keislaman. Inilah yang sering menjebak para konsumen muslim, menipu mereka dan membuat mereka kehilangan jejak untuk mengenalinya sebagai produk yang sebenarnya anti Islam.
Maka merupakan hal yang jamak bila kaum muslimin di Indonesia tidak mengerti apa itu sebenarnya UNILEVER, P&G, GILETTE, JOHNSON&JOHNSON dan yang lain.
Saudaraku……
Kita tidak pernah meluangkan waktu barang sebentar untuk bertanya, siapa sebenarnya produsen produk-produk tersebut dan kemana keuntungan penjualannya disalurkan?
Dan akahkah kita mau peduli bila ternyata uang yang kita belanjakan untuk sebuah produk UNILEVER, sebotol COCA COLA, sepotong ayam KFC dan sepasang sepatu NIKE akan berubah bentuk menjadi sebutir peluru yang hari ini akan dibidikkan kearah tubuh-tubuh kaum muslimin di Palestina?
Kitalah sebenarnya penyandang dana pembantaian itu. Kita memiliki saham yang akan memberikan ‘keuntungan’, dan kita karenanya akan bertanggung jawab di hadapan Allah.
Ataukah kita sudah tidak lagi peduli karena hati kita telah berubah menjadi ‘batu’, senjata muslimin di Palestina hari ini? Alangkah mahalnya harga sebuah gaya hidup!
Saudaraku……
Memang tidak cukup hanya dengan memboikot produk-produk Amerika dan kaki tangannya untuk menyelesaikan konflik Palestina, karena ada produk lokal yang ternyata secara terang-terangan mengucurkan dana tidak sedikit untuk membantu kristenisasi di Indonesia (semisal Konimex). Ini juga bentuk peperangan lain.
Tapi, kalau kita memulai pemboikotan terhadap produk-produk Amerika, ini juga bukan sesuatu yang remeh tentunya (Hitung sendiri berapa trilyun keuntungan yang mereka keruk dari konsumen-konsumen buta seperti kita, setiap harinya!).
Saudaraku……
Bagaimanapun, marilah kita belajar berkata tidak untuk produk-produk Amerika, sesulit apapun kita mencoba merubah selera.
Jangan katakan, "Aku tidak bisa hidup tanpa Sprite, CloseUp, Sunsilk, Rinso, Lux, Axe, Brisk,…!"
Sulit memang, tapi mungkin akan terasa ringan bila kita mulai dari Iman. Wujudkan kepercayaan muslim Palestina mengenai kita, bahwa kita adalah saudara mereka seakidah, agar mereka tidak merasa sendirian berjuang.
Saudaraku……
Duka Palestina adalah duka kita, rintihan mereka adalah rintihan kita, tangis mereka adalah tangis kita. Mari tinggalkan egoisme kita dan mulai berkata:
"UNTUK PRODUK-PRODUK AMERIKA…SAYA TIDAK!"
Ar-Risalah, Menata hati menyentuh ruhani.
No comments:
Post a Comment