SYEIKH ABDULLAH AZZAM
Abdullah Azzam bukan hanya sosok mujahid di atas kertas dan di podium, tetapi juga seorang mujahid yang gagah berani di medan tempur. Beliau lahir dan besar di negeri penuh konflik, Palestina.
Abdullah Azzam telah berhasil meletakkan pondasi jihad di hati kaum muslimin. Penghargaannya terhadap jihad sangat besar. “Aku rasa seperti baru berusia 9 tahun. 7.5 tahun jihad di Afghan, 1.5 tahun jihad di Palestina dan tahun-tahun selebihnya tidak berarti apa-apa”, katanya pada suatu ketika. Ia juga mengajak keluarganya memahami semangat yang sama dengan dirinya. Isterinya menjadi pengasuh anak-anak yatim dan pekerja sosial di Afghanistan.
Komitmen Abdullah Azzam terhadap Islam sangat tinggi. Jihad sudah menjadi filosofi hidupnya. Sampai akhir hayatnya, beliau tetap menolak tawaran mengajar di beberapa universitas. Beliau berjanji tetap terus berjihad sampai titik darah penghabisan. Mati sebagai mujahid itulah cita-citanya.
Tentu saja komitment yang begitu besar itu telah menimbulkan keresahan di kalangan musuh-musuh Islam. Beberapa kali beliau menerima cobaan pembunuhan. Sampai akhirnya. Pada Jum’at 24 November 1989. Tiga buah bom yang sengaja dipasang di gang yang biasa dilewati Abdullah Azzam meledak ketika beliau memarkir kendaraan untuk shalat Jum’at. Syeikh Abdullah Azzam bersama dua orang anak lelakinya, Muhammad dan Ibrahim, meninggal seketika. Kendaraan mereka hancur berantakan. Anaknya, Ibrahim, terlempar 100 meter; begitu juga yang lainnya. Tubuh mereka juga hancur. Namun keanehan terjadi pada Syeikh Abdullah Azzam. Tubuhnya masih utuh bersandar pada sebuah tembok. Hanya sedikit darah yang mengalir dari bibirnya.
Kini Abdullah Azzam memang telah pulang ke rahmatullah. Tetapi fatwa-fatwanya akan tetap hidup sepanjang masa. Cobalah renungkan fatwanya berikut ini :
Wahai kamu, anak-anak Islam! Biasakan dirimu dengan kebisingan bom-bom, peluru mortir dan pekikan senapan dan tank. Jauhilah kemewahan.
Wahai kaum muslimin, berimanlah dengan apa yang diimani oleh generasi pertama umat Islam, amalkan kebaikan, baca dan hafalkan Al Qur’an. Berhatilah-hatilah dengan apa yang kau katakan. Shalatlah pada malam hari, amalkan puasa sunnah, carilah teman pergaulan yang baik dan ikutlah dalam pergerakan Islam.
Ketahuilah bahwa pemimpin pergerakan tiada punya kuasa atas kamu untuk menghalangi kamu berjihad, atau mencegah kamu meninggalkan jihad demi menyebarkan da’wah, lantas menjauhkan kamu dari medan perang....Jangan sekali-kali minta pembenaran (lagi) kepada siapapun tentang jihad, sebab kebenarannya sudah pasti.
Jihad tidak boleh ditinggalkan, karena Allah sendiri mengatakan bahwa jihad itu ibadah. Orang yang istiqomah berjihad diangkat tinggi derajatnya oleh Allah. Jihad adalah membebaskan manusia dari penindasan. Jihad itu melindungi martabat kita dan memperbaiki dunia. Jihad adalah kemuliaan yang kekal.
Abdullah Azzam telah berhasil meletakkan pondasi jihad di hati kaum muslimin. Penghargaannya terhadap jihad sangat besar. “Aku rasa seperti baru berusia 9 tahun. 7.5 tahun jihad di Afghan, 1.5 tahun jihad di Palestina dan tahun-tahun selebihnya tidak berarti apa-apa”, katanya pada suatu ketika. Ia juga mengajak keluarganya memahami semangat yang sama dengan dirinya. Isterinya menjadi pengasuh anak-anak yatim dan pekerja sosial di Afghanistan.
Komitmen Abdullah Azzam terhadap Islam sangat tinggi. Jihad sudah menjadi filosofi hidupnya. Sampai akhir hayatnya, beliau tetap menolak tawaran mengajar di beberapa universitas. Beliau berjanji tetap terus berjihad sampai titik darah penghabisan. Mati sebagai mujahid itulah cita-citanya.
Tentu saja komitment yang begitu besar itu telah menimbulkan keresahan di kalangan musuh-musuh Islam. Beberapa kali beliau menerima cobaan pembunuhan. Sampai akhirnya. Pada Jum’at 24 November 1989. Tiga buah bom yang sengaja dipasang di gang yang biasa dilewati Abdullah Azzam meledak ketika beliau memarkir kendaraan untuk shalat Jum’at. Syeikh Abdullah Azzam bersama dua orang anak lelakinya, Muhammad dan Ibrahim, meninggal seketika. Kendaraan mereka hancur berantakan. Anaknya, Ibrahim, terlempar 100 meter; begitu juga yang lainnya. Tubuh mereka juga hancur. Namun keanehan terjadi pada Syeikh Abdullah Azzam. Tubuhnya masih utuh bersandar pada sebuah tembok. Hanya sedikit darah yang mengalir dari bibirnya.
Kini Abdullah Azzam memang telah pulang ke rahmatullah. Tetapi fatwa-fatwanya akan tetap hidup sepanjang masa. Cobalah renungkan fatwanya berikut ini :
Wahai kamu, anak-anak Islam! Biasakan dirimu dengan kebisingan bom-bom, peluru mortir dan pekikan senapan dan tank. Jauhilah kemewahan.
Wahai kaum muslimin, berimanlah dengan apa yang diimani oleh generasi pertama umat Islam, amalkan kebaikan, baca dan hafalkan Al Qur’an. Berhatilah-hatilah dengan apa yang kau katakan. Shalatlah pada malam hari, amalkan puasa sunnah, carilah teman pergaulan yang baik dan ikutlah dalam pergerakan Islam.
Ketahuilah bahwa pemimpin pergerakan tiada punya kuasa atas kamu untuk menghalangi kamu berjihad, atau mencegah kamu meninggalkan jihad demi menyebarkan da’wah, lantas menjauhkan kamu dari medan perang....Jangan sekali-kali minta pembenaran (lagi) kepada siapapun tentang jihad, sebab kebenarannya sudah pasti.
Jihad tidak boleh ditinggalkan, karena Allah sendiri mengatakan bahwa jihad itu ibadah. Orang yang istiqomah berjihad diangkat tinggi derajatnya oleh Allah. Jihad adalah membebaskan manusia dari penindasan. Jihad itu melindungi martabat kita dan memperbaiki dunia. Jihad adalah kemuliaan yang kekal.
No comments:
Post a Comment